Sunday, September 29, 2013

Apa Itu Percaya Diri?

Menurut saya, sikap Percaya Diri sikap yang:

  1. Meyakini bahwa saya memiliki bakat/talenta/kelebihan khusus yang diberikan Tuhan untuk dikembangkan semaksimal mungkin dan dipakai untuk membawa kebaikan bagi dunia.
  2. Meyakini bahwa saya sebagaimana adanya adalah ciptaan Tuhan yang amat berharga.
  3. Menyadari bahwa saya mampu melakukan sesuatu karena Tuhan yang menyertai.
  4. Mengingat bahwa segala hal yang kita lakukan/katakan/pikirkan pada akhirnya hanya bermuara untuk memuliakan/menyenangkan Tuhan saja.
Saya percaya bahwa sikap Percaya Diri harus terus diperjuangkan. Dalam artian, mungkin akan ada masanya kita kalah dalam memperjuangkan sikap Percaya Diri. Oleh karena itu sikap Percaya Diri harus terus diperjuangkan hingga menjadi kebiasaan lalu akhirnya menjadi sebuah karakter.

Saturday, September 28, 2013

Apa itu Rendah Hati?

Menurut saya, sikap Rendah Hati itu adalah :
  1. Tidak memandang rendah orang lain ataupun diri sendiri tetapi melihat bahwa setiap orang berharga di mata Tuhan.
  2. Menyadari segala sesuatu yang saya punyai adalah milik dan pemberian Tuhan yang sedang dipercayakan untuk saya selama saya hidup.
  3. Bukan berarti menyangkal kekuatan/kemampuan/talenta saya agar terlihat "rendah hati", tetapi menyadari bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan yang harus saya berdayakan untuk membawa kebaikan bagi dunia.
  4. Melihat bahwa setiap detik dalam hidup adalah kesempatan untuk terus menerus belajar dari setiap apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan dari orang lain dan setiap kejadian dalam hidup saya. Sehingga saya terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu (Long life education)
Saya percaya bahwa sikap Rendah Hati harus terus diperjuangkan. Dalam artian, mungkin akan ada masanya kita kalah dalam memperjuangkan sikap rendah hati. Oleh karena itu sikap rendah hati harus terus diperjuangkan hingga menjadi kebiasaan lalu akhirnya menjadi sebuah karakter.

Friday, September 27, 2013

Fenomena Mayoritas Minoritas : Sumpah Pemuda

Akhir-akhir ini kata "mayoritas" dan "minoritas" makin populer saja penggunaanya. Betapa tidak, Lurah Lenteng Agung di Prov DKI Jakarta ramai-ramai ditolak oleh warga disana karena beda keyakinan. Warga yang merasa "mayoritas" ini berdemo dan meminta kepada Gubernur DKI agar Lurah tersebut diganti. Selengkapnya baca disini. Kita juga masih ingat bagaimana pak Ahok Wagub DKI Jakarta kerap menghadapi resistensi karena dianggap "minoritas" ketika dulu mencalonkan sebagi wagub.

Oke mari kita batasi bahasan ini kepada aspek SARA (Suku, Ras, Agama, Antar Golongan) dan dalam konteks bangsa Indonesia. Karena tanggal 28 Oktober tinggal sebulan lagi, mari kita sedikit flashback dan me-refresh kepada kejadian 85 tahun lalu. Sebuah peristiwa bersejarah bangsa Indonesia yang dikenal sebagai hari Sumpah Pemuda. 

Sumpah Pemuda lahir ketika Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Para pemuda dari segala penjuru Indonesia waktu itu menyadari bahwa perlawanan yang bersifat kedaerahan (terpisah-pisah) dalam melawan penjajah tidak akan pernah bisa berhasil. Kita tahu bagaimana perlawanan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien di Aceh, Sisingamangaraja di Tapanuli, Tuanku Imam Bonjol di Padang, Pangeran Diponegoro di Jateng, I Gusti Ngurah Rai di Bali, Sultan Hasanuddin di Sulawesi, sampai kepada Pattimura di Maluku. Semuanya kandas dan tidak berhasil mengusir penjajah.

Mengapa? Karena mereka belum bersatu!
Kesadaran akan pentingnya persatuan inilah yang membuat para pemuda Indonesia dari berbagai penjuru Nusantara melepaskan atribut Suku, Ras, Agama, dan Golongan nya dan bersatu dalam memperjuangkan kemerdakan atas penjajah. Mereka berkumpul dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda yang bersejarah itu.
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. ( Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia)
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.(Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia)
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.(Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.)
Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itulah yang menjadi titik awal dalam memulai perjuangan kemerdakaan dengan semangat persatuan. Dan semangat persatuan itulah yang membawa Indonesia menjadi negara merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Dimana kemerdekaan ini diraih karena semangat Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu).

Dari peristiwa 85 tahun lalu itu, kini kita melihat Indonesia di masa sekarang dimana semangat ke-Bhinekaan sepertinya makin pudar. Rakyat negeri ini sepertinya lupa bahwa kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hanya mungkin bisa diraih dengan semangat ke-Bhinekaan. Tidak akan ada Indonesia hari ini jika 85 tahun yang lalu para pemuda masih memikirkan kesukuan mereka, agama mereka, ras mereka, dan golongan mereka. Tidak akan ada Indonesia hari ini, kawan! Ingatlah itu ketika kita mulai berpikir egois dan menciderai semangat ke-Bhinekaan hanya karena alasan SARA.

Jadi singkirkan kata-kata mayoritas/minoritas dalam kamusmu. Jangan ciderai semangat kebhinekaan yang sudah ditanamkan para pahlawan kemerdakaan. Jika seseorang memang mampu mengapa kita menghalanginya dengan mengungkit-ungkit dia dari suku apa, agama apa, ras apa, ataupun golongan apa. Ini Indonesia bung!

Saturday, August 31, 2013

Awas Menular!

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku International Bestseller berjudul Tipping Point. Buku ini ditulis oleh Malcom Gladwell yang juga merupakan penulis buku bestseller lainnya seperti Outlier, Blink, dan What The Dog Saw.

Buku Tipping Point sudah saya baca satu bab. Dan salah satu hal penting yang saya dapatkan disana adalah setiap orang (sadar atau tidak) pasti akan menularkan/ditularkan sesuatu kepada/oleh lingkungan (orang lain). 

Untuk membuktikan statement diatas, cobalah untuk menguap dimana ada beberapa orang didekat anda. Maka orang-orang didekat anda (yang melihat atau mendengar anda menguap) pasti akan ikut pula menguap (sadar atau tidak). Atau mungkin anda pernah mendengar ada orang yang bernyanyi dan tanpa sadar beberapa menit kemudian anda juga menyanyikan lagu yang sama.

Hal yang sama juga berlaku untuk ketakutan/keberanian, optimisme/pesimisme, tawa/tangis, kebahagian/kesedihan, tepuk tangan disebuah acara dan lain-lain. Semua hal itu (emosi) juga MENULAR! Bisa jadi anda yang menularkannya atau anda tertular dari orang lain.

Oleh karena kita memiliki kemampuan untuk menularkan sesuatu kepada lingkungan, penting bagi kita untuk memiliki kesadaran menularkan hal-hal yang positif bagi lingkungan kita. Dan oleh karena kita juga memiliki tendensi untuk tertular akan sesuatu, mari bergabung dengan lingkungan yang positif terlebih dahulu agar kita tertular dengan hal-hal yang positif lalu menularkan itu kepada lingkungan lain yg mungkin cenderung negatif.

Mari menularkan hal-hal yang positif bagi lingkungan kita melalui apa yang kita pikirkan, kita katakan, dan yang kita lakukan.
Selamat ditularkan dan menularkan!!

Monday, August 26, 2013

Tuhan Inilah Hidupku

TUHAN, INILAH HIDUPKU
KUSERAHKAN PADAMU
SEGALA CITA-CITAKU, MASA DEPANKU
MENJADI MILIK-MU

JADIKAN KAMI TERANG-MU
DI TENGAH KEG’LAPAN DUNIA
MEMBAWA BANGSA-BANGSA KEPADA-MU
TUHAN INI KERINDUANKU

BAGI-MU TUHAN SELURUH HIDUPKU
PAKAILAH TUHAN BAGI KEMULIAAN-MU
GENAPI SELURUH RENCANA-MU
SAMPAI BUMI PENUH KEMULIAAN-MU

26 Agustus 2013

Saturday, August 24, 2013

Sebuah Paradoks : "Semua Sudah Ditakdirkan"

Mazmur 139:16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. 

Bagi beberapa orang, masa depan bisa diubah tergantung dari apa yang sedang kita lakukan saat ini. Tapi setelah saya renungkan, ternyata pendapat tersebut kurang tepat. Kitab Mazmur 139:16 mengatakan bahwa jalan hidup kita sudah tertulis. Kalau saya berkata bahwa Allah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita di masa depan, mungkin semua pasti setuju karena kita sepakat bahwa Allah Maha Tahu. 

Tapi kesepakatan itu membawa implikasi penting bahwa sebenarnya jalan hidup kita sudah diatur oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah rencana Tuhan atas dunia ini dan atas hidup kita. Kapan kita lahir, kapan kita mulai bekerja, kapan kita menikah, kapan kita mati, semua sudah diatur oleh Tuhan dan kita tidak bisa mengubah itu. Pak Basuki (Ahok), Wagub DKI Jakarta, pernah berkata bahwa ketakutan terhadap sesuatu tidak akan memperpanjang usia kita. Hidup mati sudah diatur oleh Tuhan dan Pak Ahok hanya taat pada konstitusi dalam menjalankan tugasnya meskipun itu berarti harus melawan para bandit di Jakarta.

Memang dibagian ini saya masih belum bisa mengerti sepenuhnya karena disatu sisi Allah sudah mengatur jalan hidup setiap orang dan disisi lain saya juga berpendapat bahwa dalam kasih Nya Allah akan memberikan kebebasan bagi orang dalam menentukan pilihan hidupnya. Seperti sebuah paradoks bukan?

Tapi saya yakin bahwa teka-teki tersebut tidak akan pernah mampu dijawab oleh siapapun karena itu diluar pemikiran manusia. Saya lebih memilih untuk menjalani kehidupan saya dengan taat kepada Tuhan dalam mengambil pilihan-pilihan hidup saya. Namun disisi lain saya yakin bahwa hidup saya sudah diatur oleh Dia (Yeremia 29:11). Jadi dengan paradigma berpikir seperti itu, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan dalam hidup ini jika saya taat dan percaya pada Nya, karena janji Tuhan adalah rancangan yang baik atas hidup kita.

Jadi sebenarnya tidak ada yang bisa kita sombongkan dalam hidup ini. Segala sesuatunya berasal dari Dia, diatur oleh Dia, dan untuk Dia.