Wednesday, August 14, 2013

Light - Donghaeng - O Jesus I Have Promised

Musik yang sangat teduh..

    O Jesus, I have promised 
to serve thee to the end; 
be thou forever near me, 
my Master and my friend. 
I shall not fear the battle 
if thou art by my side, 
nor wander from the pathway 
if thou wilt be my guide. 

     O let me feel thee near me! 
The world is ever near; 
I see the sights that dazzle, 
the tempting sounds I hear; 
my foes are ever near me, 
around me and within; 
but Jesus, draw thou nearer, 
and shield my soul from sin. 

   O let me hear thee speaking 
in accents clear and still, 
above the storms of passion, 
the murmurs of self-will. 
O speak to reassure me, 
to hasten or control; 
O speak, and make me listen, 
thou guardian of my soul. 

     O Jesus, thou hast promised 
to all who follow thee 
that where thou art in glory 
there shall thy servant be. 
And Jesus, I have promised 
to serve thee to the end; 
O give me grace to follow, 
my Master and my Friend.

Saturday, August 10, 2013

Kuatir Tak Ada Gunanya

Kuatir, apa gunanya?
Apakah kekuatiranmu itu akan menolongmu mencapai tujuan?
Jika tidak, mengapa harus kuatir?
Apa gunanya?

Kuatir tidak membawamu kemanapun
Kuatir tidak dapat menambah sehasta saja dalam hidupmu

Jadi... 
Kerjakan saja apa yang bisa kau kerjakan
Kerjakan saja dengan maksimal
Dan juga ingatlah..
Rambut di kepalamu saja pun terhitung oleh-Nya
Tidak sehelai pun jatuh diluar kehendak-Nya

Kuatir tidak ada gunanya
*****

Hal yang pasti mengenai kekuatiran adalah apa yang kita kuatirkan sebenarnya belum terjadi sama sekali. Jika kita kuatir, sudah pasti yang kita kuatirkan itu adalah Masa Depan (yang akan datang) dan sama sekali belum terjadi. Jika kekuatiran akan Masa Depan itu sudah menguasai, kita tidak bisa berpikir jernih bahwa sebenarnya ada banyak hal yang masih bisa dikerjakan di Masa Kini dalam menghadapi Masa Depan. Ketidaksadaran karena kekuatiran itu membuat kita putus asa, merasa tidak tenang dalam hidup, dan mengasihani diri. Itulah buah dari kekuatiran/ketakutan. Membuat anda tidak bisa maksimal dimasa kini hanya karena sesuatu yang sama sekali belum terjadi.

Kekuatiran sama sekali tidak ada gunanya. Jadi kerjakan saja apa yang bisa kita kerjakan saat ini. Masa depan tidak ada yang tahu. Lagipula, masa depan bukanlah untuk dikuatirkan. Masa depan seharusnya adalah wadah untuk impian dan pengharapan. Masa kini lah yang bisa kita kendalikan dan yang menentukan masa depan seperti apa yang akan kita alami. 
Kuatir tak ada gunanya.
He holds the future!

Saturday, July 27, 2013

Apa Yang Anda Tangisi?

Baru-baru ini saya cukup tergelitik membaca sebuah berita di Kompas yang mengatakan bahwa salah seorang artis Indonesia menangis karena berat badannya yang naik. Kontras dengan itu, baru-baru ini juga, saya menonton sebuah film yang luar biasa bagus berjudul Schindler List. Di film itu, aktor utamanya, Oscar Schindler juga menangis karena dia merasa seharusnya dia masih bisa menyelamatkan satu lagi nyawa manusia dari kekejaman Adolf Hitler dan tentara Nazi. Lalu saya bertanya, mengapa yang seorang menangis karena berat badannya yang naik sementara yang seorang lagi menangis karena merasa seharusnya masih bisa menyelamatkan satu nyawa manusia lagi?

Pertanyaan ini meyakinkan saya kepada sebuah kesimpulan penting yaitu, apa yang kita tangisi biasanya dapat menjadi indikator karakter kita.

Kalau kita menangis karena lapar, merasa tidak nyaman, atau ingin cari perhatian, kita tidak berbeda jauh dengan bayi karena bayi juga seperti itu. Kalau kita menangis karena usaha kita tidak dihargai dan ditolak orang lain mungkin karena kita lebih mengasihi diri sendiri. Atau menangis karena tidak tahan/gagal menghadapi tantangan hidup yang berat.

Apa yang membuat Anda menangis?
Pertanyaan kepada diri sendiri ini membawa saya kembali mengingat kisah tangisan Nehemia (Nehemia 1:4), tangisan Yeremia (Yer 9:1), tangisan Paulus (Kis 20:19) dan bahkan tangisan Yesus (Luk 19:41). Baik Nehemia, Yeremia, Paulus, dan Yesus menangis untuk suatu tujuan yang lebih besar dari diri sendiri yaitu untuk kepentingan orang banyak dan kemuliaan Allah. Seringkali linangan air mata kita menunjukkan level keseriusan kita dalam komitmen kita untuk menjadi berkat bagi orang banyak.

Apa yang membuat Anda menangis?

Menemukan Visi Hidup (Panggilan Hidup) part I

Visi berasal dari bahasa Inggris, vision, yang adalah gambaran yang jelas di masa depan yang ingin diwujudkan. Saya lebih cenderung memakai kata "panggilan hidup" dibandingkan visi hidup karena Alkitab menjelaskan bahwa visi selalu datang dari Allah (Sang Pemanggil dan Pencipta). Allah lah yang berinisiatif untuk menanamkan visi dalam setiap umatNya (misalnya visi Allah kepada Abraham, Musa, Yusuf, Ester, Nehemia, Paulus, dsb).
Sehingga kesimpulan akhirnya ialah bahwa Panggilan Hidup (visi hidup) adalah gambaran yang jelas dimasa depan yang Allah tanamkan dalam diri setiap umatNya.
Jadi berdasarkan kesimpulan ini, visi tidak datang dari manusia (diri kita) karena hidup bukanlah tentang diri kita tetapi tentang bagaimana kita berdampak positif bagi orang lain yang ujungnya adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Pertanyaan berikutnya ialah "bagaimana mengetahui panggilan yang Allah berikan?".
Jika mengacu kepada paparan diatas, panggilan hidup (visi hidup) selalu melibatkan 3 unsur utama yaitu :
  1. Allah : kehendak dan beban yang Allah berikan (Apa yang Allah ingin agar saya kerjakan?)
  2. Diri kita : talenta/kapasitas/karakter/passion yang telah Allah tanamkan secara unik (Apa yang telah Allah berikan sebagai modal bagi saya?)
  3. Lingkungan : kebutuhan zaman (isu) yang Allah tunjukkan (Apa yang menjadi isu zaman ini yang relevan dengan 2 hal diatas?)
Ketiga elemen diatas perlu untuk jadi bahan pergumulan untuk menemukan panggilan hidup. Kalau kita hanya memiliki elemen 1 dan 2, kita akan membabi buta. Jika hanya 1 dan 3 kita akan mudah frustrasi karena merasa tidak mampu mengerjakan. Kalau hanya 2 dan 3 kita akan mudah jenuh dan patah semangat. 

Jadi dapat disimpulkan untuk menggumulkan panggilan hidup kita harus melihat kepada Allah, melihat kepada diri sendiri, dan melihat lingkungan sekitar kita. 

Jika belajar dari kisah dalam Alkitab, Allah memberikan/menanamkan panggilan (visi) itu kepada umatNya dengan beberapa cara :
1. Melalui perjumpaan langsung secara supranatural
Misalnya : ketika Allah memanggil Abraham dan menanamkan visi dimana keturunan Abraham akan menjadi bangsa yang besar. Atau ketika Allah memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan membawa mereka ke tanah perjanjian.

2. Melalui Lingkungan sekitar
Misalnya : Nehemia yang tergerak utk membangun tembok Yerusalam ketika melihat bangsa Yahudi yg menderita. Sama sekali tidak ada peristiwa supranatural disini, semak yang terbakar, mimpi, atau peristiwa ajaib apapun. Atau Ester yang juga tergerak ketika melihat penderitaa bangsanya.

Rekomendasi bacaan yang relevan :
1. Alkitab
2. Jadilah Pemimpin Demi Kristus oleh Sen Sendjaya, Phd

Thursday, July 18, 2013

Maraknya Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis

 Sebenarnya pengertian dosa bisa dipadatkan menjadi seperti berikut : "Segala perbuatan manusia yang menyimpang dari maksud dan tujuan Allah atas manusia".
Salah satu contoh sederhana ialah : membunuh itu dosa karena maksud dan tujuan Allah ialah agar manusia saling mengasihi.

Pernikahan sesama jenis yang sudah mulai banyak dilegalkan di beberapa negara maju, tentu saja adalah sebuah dosa. Karena salah satu maksud dan tujuan Allah atas pernikahan ialah agar manusia beroleh keturunan dan memenuhi bumi ( Kejadian 1:28). Selain itu ketika Allah berkata "tidak baik manusia itu (Adam) seorang diri saja", Allah tidak menciptakan seorang lelaki lagi, melainkan seorang wanita (Kejadian 2:18). By the way, ini adalah kali pertama Allah berkata "tidak baik" atas ciptaan-Nya setelah sebelum-sebelumnya Allah selalu berkata "baik" terhadap apa yang sudah terlebih dulu diciptakan-Nya.

Semua hal diatas adalah maksud dan tujuan Allah atas pernikahan dan kekristenan merupakan iman yang menjunjung tinggi kekudusan pernikahan karena hubungan antara Kristus dan gerejaNya diibaratkan seperti mempelai lelaki dan mempelai wanita, yaitu dalam pernikahan. (Matius 9:15, Matius 25, Yoh 3:29, Wahyu 19:7).

Tentu saja jika kita memakai dasar Iman Kristen pernikahan sesama jenis adalah sebuah dosa yang menjijikkan. Dan seharusnya setiap orang Kristen adalah orang yang paling terdepan dalam menolak pernikahan sesama jenis.

Tetapi miris melihat bagaimana negara-negara yang dulunya merupakan kantong-kantong Kristen (seperti Australia, Belanda, Spanyol, Inggris, dll) berubah arah menjadi negara yang melegalkan pernikahan sejenis. Fenomena ini menunjukkan bahwa Kebenaran Mutlak itu telah disingkirkan dan diganti dengan kebenaran manusiawi yang berasal dari hawa nafsu semata.

Tentu saja fenomena ini tidak terjadi dalam satu malam saja, tetapi merupakan sebuah proses yang sudah terjadi beberapa waktu lalu yang sengaja/tidak sengaja dibiarkan sehingga menghasilkan fenomena ini. Saya selalu menyukai ilustrasi katak untuk menjelaskan mengapa fenomena menyimpang ini bisa terjadi.

Akhir ceritanya adalah seekor katak yang mati dalam air mendidih. Namun awalnya adalah begini : ketika katak ditempatkan dalam kuali berisi air dingin yang perlahan-lahan dipanaskan hingga mendidih, si katak tetap berenang-renang dengan tenang tanpa menyadari apa yang terjadi. Tetapi seandainya katak yang sama dicemplungkan kedalam air yang mendidih, ia pasti akan segera melompat keluar dari kuali demi keselamatannya. Perubahan secara perlahan-lahan tidak diperhatikannya, dan ia menyesuaikan dirinya melampaui batas yang masuk akal, padahal perubahan yang drastis segera diresponnya dengan akal sehat demi keselamatannya.

Dan sesungguhnya seperti itulah cara iblis berusaha untuk melencengkan maksud Allah terhadap manusia. Secara perlahan-lahan yang tidak disadari oleh manusia itu sendiri.

Perhatikanlah era ini dimana kebenaran relatif menjadi sesuatu slogan zaman ini. Terhadap isu pernikahan sejenis, banyak yang berpendapat "selama tidak ada yang merasa dirugikan mengapa harus dilarang?". Tentu terhadap orang dengan pemikiran seperti itu Kebenaran Allah tidak relevan lagi. 

Surat II Timotius 3 menjelaskan bahwa pada hari-hari terakhir, manusia akan mencintai dirinya sendiri, mengikuti hawa nafsunya, dan menolak Kebenaran Allah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orang percaya menghadapi fenomena ini?
Menurut saya :
  1. Berdoa terhadap hal ini
  2. Menjaga pondasi kita agar tetap kokoh didalam Tuhan melalui disiplin rohani
  3. Ambil bagian (misalnya menjadi politisi yang menentang undang-undang yang melegalkan pernikahan sejenis).
Rekomendasi bacaan yang relevan : Judul : Deliver Us From Evil. Penulis : Ravi Zacharias

Menggombali Tuhan


Tuhan ampuni kami kalau sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak sungguh-sungguh ketika mengatakan dan menyanyikan itu semua

Tuhan ampuni kami kalau kami sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak menyadari makna dari semua kata-kata kami 

Tuhan ampuni kami kalau kami sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak menghidupi apa yang kami doakan atau nyanyikan

Tuhan kami tidak mau menggombali Mu lagi
Biarlah setiap doa dan nyanyian yang kami panjatkan
Berasal dari hati kami yang terdalam karena kami menyadarinya
Dan yang paling penting menghidupinya

Tuhan kasihanilah kami orang yang berdosa ini