Saat ini saya sedang membaca sebuah buku International Bestseller berjudul Tipping Point. Buku ini ditulis oleh Malcom Gladwell yang juga merupakan penulis buku bestseller lainnya seperti Outlier, Blink, dan What The Dog Saw.
Buku Tipping Point sudah saya baca satu bab. Dan salah satu hal penting yang saya dapatkan disana adalah setiap orang (sadar atau tidak) pasti akan menularkan/ditularkan sesuatu kepada/oleh lingkungan (orang lain).
Untuk membuktikan statement diatas, cobalah untuk menguap dimana ada beberapa orang didekat anda. Maka orang-orang didekat anda (yang melihat atau mendengar anda menguap) pasti akan ikut pula menguap (sadar atau tidak). Atau mungkin anda pernah mendengar ada orang yang bernyanyi dan tanpa sadar beberapa menit kemudian anda juga menyanyikan lagu yang sama.
Hal yang sama juga berlaku untuk ketakutan/keberanian, optimisme/pesimisme, tawa/tangis, kebahagian/kesedihan, tepuk tangan disebuah acara dan lain-lain. Semua hal itu (emosi) juga MENULAR! Bisa jadi anda yang menularkannya atau anda tertular dari orang lain.
Oleh karena kita memiliki kemampuan untuk menularkan sesuatu kepada lingkungan, penting bagi kita untuk memiliki kesadaran menularkan hal-hal yang positif bagi lingkungan kita. Dan oleh karena kita juga memiliki tendensi untuk tertular akan sesuatu, mari bergabung dengan lingkungan yang positif terlebih dahulu agar kita tertular dengan hal-hal yang positif lalu menularkan itu kepada lingkungan lain yg mungkin cenderung negatif.
Mari menularkan hal-hal yang positif bagi lingkungan kita melalui apa yang kita pikirkan, kita katakan, dan yang kita lakukan.
Selamat ditularkan dan menularkan!!
Showing posts with label baca buku. Show all posts
Showing posts with label baca buku. Show all posts
Saturday, August 31, 2013
Thursday, May 16, 2013
Teknik Negosiasi
Dimasa pengangguran seperti ini, banyak waktu saya habiskan, salah satunya, dengan membaca buku-buku yang tidak sempat saya selesaikan dimasa kuliah. Maklum, kesibukan mahasiswa membuat buku-buku bacaan yang dibeli tidak dapat diselesaikan atau bahkan belum disentuh sama sekali. Hehe.
Salah satu buku yang saya baca kali ini berjudul "You can negotiate anything" karya Herb Cohen. Herb Cohen didaulat sebagai The World's Best Negotiator. Dan itu yang dulu membuat saya tertarik membeli bukunya.
Isi buku ini menarik dan sedikit "nakal". Menarik karena banyak hal-hal yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya dan "nakal" karena penulis terkadang memberikan sedikit trik-trik yang agak bertentangan dengan nilai-nilai moral demi memenangkan negosiasi. Tetapi "kenakalan" tersebut penting untuk saya ketahui karena tidak semua lawan negosiasi kita orang-orang baik. Terkadang dalam negosiasi, kita akan bertemu dengan orang-orang yang picik, bukan? Jadi penting sekali untuk mengetahui "cara dia bermain" dan "teknik" yang dia pakai untuk memenangkan sebuah negosiasi. Sehingga kita tidak terikut dalam alur bermainnya.
Saya setuju dengan penulis bahwa hidup ini bisa juga dipandang sebagai sebuah "meja negosiasi raksasa". Suka atau tidak kita menjadi seorang peserta didalamnya. Misalnya seorang suami bernegosiasi dengan istri, anak dengan orang tuanya, kita dengan pelayan toko, kita dengan rekan bisnis/kerja, dan masih banyak lagi. Bahkan sesungguhnya kita telah melakukan negosiasi lebih sering daripada yang kita sadari (mungkin kita tidak sadar sedang melakukan negosiasi).
Jadi diperlukan kecakapan dalam hal bernegosiasi karena negosiasi adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Buku setebal 385 halaman yang ditulis oleh Herb Cohen (The World's Best Negotiator) ini akan memaparkan teknik-teknik dalam bernegosiasi. Worth reading!
Saturday, April 27, 2013
Power Distance Index (PDI) - 2
Malcom Gladwell dalam bukunya Outlier membuat list negara-negara yg memiliki Power Distance Index (PDI) yg rendah dan yg tinggi. Salah satu negara yang memiliki PDI yg tinggi adalah Perancis. On the other hand, negara yang memiliki PDI yang rendah adalah Amerika Serikat. Makna dari PDI sendiri sudah pernah saya tuliskan pada tulisan sebelumnya disini.
Kemaren saya baru menyadari bahwa Malcom benar tentang itu. Di ITB Career Day kemaren, saya mengikuti presentasi Company Profile dari dua perusahaan migas multinasional terkemuka di dunia. Satu perusahaan berasal dari Perancis dan satu lagi dari AS. Terlihat jelas values yang berbeda yang dianut oleh kedua perusahaan tersebut. Dan hal itu juga diakui oleh presenter company yg berasal dari Perancis. Dia mengatakan kalau budaya kerja di company tsb hampir mirip2 dengan budaya jawa. It means that hierarki nya "kelihatan sekali" dan untuk new comers harus hati-hati dalam cara penyampaian ide/pendapat atau ketidaksetujuannya terhadap atasan. Artinya PDI nya (seperti yg dikatakan Gladwell) tinggi.
Berbeda dengan perusahaan yg berasal dari US. Disana lingkungan kerjanya lebih fun dan tidak kaku antara atasan dengan bawahan. Hal itu jelas sekali saya lihat dari presenters yang datang dari berbagai posisi dan jabatan. Mereka terlihat lebih tidak ada gap antara new comers dengan yang sudah senior.
Budaya-budaya kerja di perusahaan penting untuk diketahui dan menarik untuk diamati. Penting karena akan mempengaruhi tingkat kenyamanan kita bekerja dan menarik karena setiap perusahaan memiliki budaya kerja masing-masing. Tentunya tidak ada yang baik dan yang buruk mengenai tingkat PDI. Selama itu relevan dengan visi misi perusahaan/organisasi maka PDI yang manapun bisa dipilih. Menurut saya begitu.
Kemaren saya baru menyadari bahwa Malcom benar tentang itu. Di ITB Career Day kemaren, saya mengikuti presentasi Company Profile dari dua perusahaan migas multinasional terkemuka di dunia. Satu perusahaan berasal dari Perancis dan satu lagi dari AS. Terlihat jelas values yang berbeda yang dianut oleh kedua perusahaan tersebut. Dan hal itu juga diakui oleh presenter company yg berasal dari Perancis. Dia mengatakan kalau budaya kerja di company tsb hampir mirip2 dengan budaya jawa. It means that hierarki nya "kelihatan sekali" dan untuk new comers harus hati-hati dalam cara penyampaian ide/pendapat atau ketidaksetujuannya terhadap atasan. Artinya PDI nya (seperti yg dikatakan Gladwell) tinggi.
Berbeda dengan perusahaan yg berasal dari US. Disana lingkungan kerjanya lebih fun dan tidak kaku antara atasan dengan bawahan. Hal itu jelas sekali saya lihat dari presenters yang datang dari berbagai posisi dan jabatan. Mereka terlihat lebih tidak ada gap antara new comers dengan yang sudah senior.
Budaya-budaya kerja di perusahaan penting untuk diketahui dan menarik untuk diamati. Penting karena akan mempengaruhi tingkat kenyamanan kita bekerja dan menarik karena setiap perusahaan memiliki budaya kerja masing-masing. Tentunya tidak ada yang baik dan yang buruk mengenai tingkat PDI. Selama itu relevan dengan visi misi perusahaan/organisasi maka PDI yang manapun bisa dipilih. Menurut saya begitu.
Thursday, April 25, 2013
Power Distance Index (PDI)
Dalam sebuah buku terkenal berjudul "Outlier", terdapat sebuah bab yang membahas tentang Power Distance Index (PDI) atau terjemahan Indonesianya "Jarak Kekuasaan". PDI sendiri merupakan index yang menunjukkan seberapa besar gap yang terjadi antara atasan dan bawahan. Dan apakah pegawai merasa takut untuk menyampaikan pendapat/saran dan bahkan ketidaksetujuannya kepada atasannya.
Jika mengamati Amerika Serikat dan Indonesia, tentu sudah dapat dinilai bahwa PDI di US memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan di Indonesia. Artinya kebebasan bawahan untuk berargumen dan bahkan menolak perkataan atasan masih sulit ditemui di Indonesia. AS sebaliknya karena kebudayaan mereka memang seperti itu yang saya amati. Saya pernah melihat di sebuah acara TV bagaimana perusahaan besar seperti Facebook dikelola dan membandingkannya dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya (setidaknya yang saya dengar dari cerita teman-teman saya yang sudah bekerja). Dari situ dengan jelas saya melihat perbedaan yang besar dalam hal PDI. PDI di Facebook memiliki index yang jauh lebih rendah. Terlihat dari cara berpakaian sang CEO ke kantor selayaknya anak muda dengan kaos dan jeansnya. Mark juga lebih sering berbaur dan coding bersama bawahannya disatu ruangan yang cukup luas dan besar. Tata ruang kantornya yang didesain sedemikian rupa sehingga setiap orang bebas berinteraksi satu dengan yang lain, atasan dengan bawahan. Dan coba bandingkan hal itu dengan perusahaan di Indonesia.
Tentu saja, ada organisasi/perusahaan yang membutuhkan PDI yang tinggi agar bisa berjalan dengan baik, misalnya (menurut pendapat saya) TNI atau Kepolisian. Tetapi untuk perusahaan atau kondisi-kondisi (misalnya rapat Brainstorming) yang mengedepankan kreativitas dan inovasi, seharusnya PDI diusahakan rendah sehingga ide-ide kreatif inovatif bisa muncul dari mana saja. Bawahan diajak untuk tidak sekedar taat pada atasan tetapi juga berani beragurmen dan mengatakan ketidaksetujuannya dengan alasan yang rasional. Saya pikir dengan cara seperti itulah perusahaan bisa maju dan berinovasi.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mendapat kesempatan untuk interview disebuah perusahaan kontraktor Oil and Gas di Jakarta. Ketika sedang duduk menunggu giliran interview, saya mengamat-amati perilaku para pekerja disana, cara berkomunikasi mereka satu dengan yang lain. Antara satpam dengan karyawan, karyawan dengan recepsionis, atasan dengan bawahan, bahkan terhadap Office Boy. Dari pengamatan saya tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa PDI di perusahaan ini rendah. Artinya suasana kerja disana tidak terlalu kaku dan biroktratis. Oleh karena itu saya suka dengan lingkungan pekerjaannya disamping nama besar perusahaan itu sendiri.
Pada akhirnya, PDI sendiri tergantung kepada keunikan,visi,misi, dan organisasi/perusahaan itu sendiri. Ada organisasi/perusahaan yang seharusnya memiliki PDI tinggi namun ada juga yang seharusnya memiliki PDI rendah.
Jika mengamati Amerika Serikat dan Indonesia, tentu sudah dapat dinilai bahwa PDI di US memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan di Indonesia. Artinya kebebasan bawahan untuk berargumen dan bahkan menolak perkataan atasan masih sulit ditemui di Indonesia. AS sebaliknya karena kebudayaan mereka memang seperti itu yang saya amati. Saya pernah melihat di sebuah acara TV bagaimana perusahaan besar seperti Facebook dikelola dan membandingkannya dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia pada umumnya (setidaknya yang saya dengar dari cerita teman-teman saya yang sudah bekerja). Dari situ dengan jelas saya melihat perbedaan yang besar dalam hal PDI. PDI di Facebook memiliki index yang jauh lebih rendah. Terlihat dari cara berpakaian sang CEO ke kantor selayaknya anak muda dengan kaos dan jeansnya. Mark juga lebih sering berbaur dan coding bersama bawahannya disatu ruangan yang cukup luas dan besar. Tata ruang kantornya yang didesain sedemikian rupa sehingga setiap orang bebas berinteraksi satu dengan yang lain, atasan dengan bawahan. Dan coba bandingkan hal itu dengan perusahaan di Indonesia.
Tentu saja, ada organisasi/perusahaan yang membutuhkan PDI yang tinggi agar bisa berjalan dengan baik, misalnya (menurut pendapat saya) TNI atau Kepolisian. Tetapi untuk perusahaan atau kondisi-kondisi (misalnya rapat Brainstorming) yang mengedepankan kreativitas dan inovasi, seharusnya PDI diusahakan rendah sehingga ide-ide kreatif inovatif bisa muncul dari mana saja. Bawahan diajak untuk tidak sekedar taat pada atasan tetapi juga berani beragurmen dan mengatakan ketidaksetujuannya dengan alasan yang rasional. Saya pikir dengan cara seperti itulah perusahaan bisa maju dan berinovasi.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mendapat kesempatan untuk interview disebuah perusahaan kontraktor Oil and Gas di Jakarta. Ketika sedang duduk menunggu giliran interview, saya mengamat-amati perilaku para pekerja disana, cara berkomunikasi mereka satu dengan yang lain. Antara satpam dengan karyawan, karyawan dengan recepsionis, atasan dengan bawahan, bahkan terhadap Office Boy. Dari pengamatan saya tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa PDI di perusahaan ini rendah. Artinya suasana kerja disana tidak terlalu kaku dan biroktratis. Oleh karena itu saya suka dengan lingkungan pekerjaannya disamping nama besar perusahaan itu sendiri.
Pada akhirnya, PDI sendiri tergantung kepada keunikan,visi,misi, dan organisasi/perusahaan itu sendiri. Ada organisasi/perusahaan yang seharusnya memiliki PDI tinggi namun ada juga yang seharusnya memiliki PDI rendah.
Subscribe to:
Posts (Atom)