Showing posts with label christianity. Show all posts
Showing posts with label christianity. Show all posts

Monday, June 29, 2015

We have no idea what lies ahead..

Once upon a time there was a farmer who had only one horse, and one day the horse ran away. The neighbors came to condole over his terrible loss. The farmer said, "What makes you think it is so terrible?"

A month later, the horse came home--this time bringing with her two beautiful wild horses. The neighbors became excited at the farmer's good fortune. Such lovely strong horses! The farmer said, "What makes you think this is good fortune?"

The farmer's son was thrown from one of the wild horses and broke his leg. All the neighbors were very distressed. Such bad luck! The farmer said, "What makes you think it is bad?"

A war came, and every able-bodied man was conscripted and sent into battle. Only the farmer's son, because he had a broken leg, remained. The neighbors congratulated the farmer. "What makes you think this is good?" said the farmer.

- An eastern folklore -

Berapa kali kita terlalu cepat komplain akan hal-hal buruk yang terjadi pada kita/pada orang lain?

Misalnya ketika seorang lumpuh karena ditabrak oleh pengemudi yang mabuk, kita berkata "seandainya Tuhan mencegah hal buruk itu terjadi pada-Nya".
Kita tau apa sih tentang masa depan?
Mengapa kita tidak bersabar dan percaya penuh pada-Nya?
Bukankah rancangan-Nya bagi orang yang percaya adalah yang mendatangkan damai sejahtera (Yer 29:11).


Friday, April 3, 2015

Burung Merpati

Menarik mengamati bagaimana karakteristik seekor merpati yang diciptakan oleh Allah dan digunakan untuk melambangkan karakteristik ilahi.
  • Dalam Injil, Roh Kudus digambarkan seperti burung merpati (Matius 3:16-17).
  • Merpati merupakan burung yang setia kepada pasangannya sama seperti kesetiaan Allah kepada umat-Nya.
  • Merpati merupakan burung yang digunakan untuk membawa pesan sama seperti orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk membawa pesan kabar keselamatan bagi umat manusia
  • Dalam Alkitab, merpati juga digunakan sebagai korban sembelihan. Hal ini dimungkinkan bagi orang-orang yang miskin finansial sebagai pengganti domba yang harganya lebih mahal

Saturday, March 14, 2015

Keturunan Orang Benar : A Father's Legacy

Saat menonton video Pak Ahok ketika menyampaikan sambutan, saya kembali teringat dengan sebuah penelitian menarik yang disinggung oleh Pak Ahok dalam sambutannya tersebut. Penelitian tersebut adalah penelitian tentang keterkaitan antara bagaimana cara hidup seseorang mempengaruhi keturunan-keturunannya kelak. Penelitian dilakukan oleh cendikiawan Richard Dugdale dan Benjamin Warfield terhadap keturunan Jonathan Edwards dan Max Jukes yang hidup dalam era yang sama (abad 18).

Jonathan Edwards hidup dari tahun 1703 - 1758. Ia dikenal sebagai seorang penulis dan misionaris keliling yang berpengaruh. Dia telah menulis banyak buku dan membaktikan hidupnya untuk memberitakan injil. Sedangkan Max Jukes dikenal sebagai seorang pemabuk keras, memiliki sifat yang tidak stabil (bermalas-malasan dan bekerja jika ada dorongan).

Hasil dari penelitian tersebut membuat saya tersadarkan lagi bahwa cara hidup seseorang akan mempengaruhi kehidupan keturunan-keturunannya. Dari penelitian tersebut, keturunan-keturunan Jonathan Edwards banyak yang menjadi :
  • Profesor : sekitar 65 orang
  • Hakim : sekitar 30 orang
  • Pengacara : sekitar 100 orang
  • Ilmuwan : sekitar 60 orang
  • Rektor universitas : sekitar 13 orang
  • Tentara : sekitar 75 orang
  • Penulis : sekitar 60 orang
  • Gubernur dan menteri : sekitar 80 orang
  • Senator : 3 orang
  • Wakil presiden Amerika Serikat : 1 orang (Arron Burr)
Bahkan faktanya, Jonathan Edwards sendiri adalah anak dari Timothy Edwars seorang pendeta yang merelakan sebagian gajinya untuk anak-anak yang kurang mampu sehingga bisa bersekolah. Ibu dari Jonathan Edwards bernama Esther Stoddard yang merupakan putri dari seorang penginjil. Jadi dapat terlihat bahwa Jonathan Edwards benar-benar tumbuh besar dalam keluarga yang taat kepada Tuhan.

Di lain sisi, keturunan-keturunan Max Jukes banyak yang menjadi pemabuk, pencuri, pembunuh, dan terlibat dalam prostitusi. 

Tentu saja, sebagai manusia kita tidak bisa menghakimi Max Jukes. Kalau Tuhan memberikan anugerah-Nya, bisa saja ada orang dari keturunan Jukes yang berbeda dari kebanyakan keturunan Jukes. Berbeda dalam artian menjadi orang yang baik dan berdampak positif.

Tapi setidaknya, penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi saya bahwa orang yang hidup benar dan takut akan Tuhan, akan meninggalka warisan (legacy) yang baik bagi keturunannya. Warisan itu tidak melulu soal uang. Yang lebih penting warisan itu berupa iman yang teguh, nilai-nilai hidup, dan prinsip hidup yang akan membentuk karakter seseorang.


"Orang benar yang bersih kelakuannya--berbahagialah keturunannya. (The just man walketh in his integrity: his children are blessed after him)
-Amsal 20:7-

"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu"
-2 Timoteus 1:5-

Salah satu buku karangan Jonathan Edwards.




Friday, March 6, 2015

Kalau anda benar-benar percaya ada Tuhan..

Kalau anda benar-benar percaya ada Tuhan,

  • Anda yakin kalau hidup mati seseorang sudah diatur oleh-Nya. Kalau belum waktunya mati, tidak akan mati. Kalau waktunya mati, pasti mati. Manusia tidak berkuasa sedikitpun atas hidupnya.
  • Anda yakin bahwa segala sesuatu terjadi adalah karena rancangan Tuhan/seizin Tuhan.
  • Anda akan giat bekerja selama masih hidup karena Allah juga senantiasa bekerja.
  • Anda akan berani untuk hidup benar dan taat walaupun hal itu membuat seluruh dunia menolak anda.

Tuesday, January 20, 2015

How could we possibly know God?

I want just to pose a question: if such an uncaused, first cause exists, how could we possibly know him? C.S. Lewis thought about this problem in literary terms. He asked himself how Hamlet could meet Shakespeare, his creator. And he concluded that no way could Hamlet bring about such a meeting. But then it dawned on him, that they could have met and known each other, if Shakespeare had taken the initiative and written himself into the drama as one of its characters. Then Hamlet could have met his creator.

And that is what Christians believe that God has done. The entirely good and holy, uncaused, first cause has taken the initiative and entered our world and meets us uniquely in Christ – God made flesh and dwelling among us – that we might know him, love him and live our lives in the ultimate of fulfilling and transforming relationships, that of knowing God himself.

Sunday, January 18, 2015

Faith and Facts

The amazing story of Charles Blondin, a famous French tightrope walker, is a wonderful illustration of what true faith is.
Blondin's greatest fame came on September 14, 1860, when he became the first person to cross a tightrope stretched 11,000 feet (over a quarter of a mile) across the mighty Niagara Falls. People from both Canada and America came from miles away to see this great feat.
He walked across, 160 feet above the falls, several times... each time with a different daring feat - once in a sack, on stilts, on a bicycle, in the dark, and blindfolded. One time he even carried a stove and cooked an omelet in the middle of the rope!
A large crowd gathered and the buzz of excitement ran along both sides of the river bank. The crowd “Oohed and Aahed!” as Blondin carefully walked across - one dangerous step after another - pushing a wheelbarrow holding a sack of potatoes.
Then a one point, he asked for the participation of a volunteer. Upon reaching the other side, the crowd's applause was louder than the roar of the falls!
Blondin suddenly stopped and addressed his audience: "Do you believe I can carry a person across in this wheelbarrow?"
The crowd enthusiastically yelled, "Yes! You are the greatest tightrope walker in the world. We believe!"
"Okay," said Blondin, "Who wants to get into the wheelbarrow."
As far as the Blondin story goes, no one did at the time!
This unique story illustrates a real life picture of what faith actually is. The crowd watched these daring feats. They said they believed. But... their actions proved they truly did not believe.
Similarly, it is one thing for us to say we believe in God. However, it's true faith when we believe God and put our faith and trust in His Son, Jesus Christ.
-----
Note: In August of 1859, Blondin's manager, Harry Colcord, did ride on Blondin's back across the Falls.
Charles Blondin

Can you give a good definition of biblical faith? How does it relate to science?
I don't like the word "faith." Not because faith isn't valuable, but because it's often deeply misunderstood. "Faith" in this twisted sense is what you use when all reason is against you. It's religious wishful thinking, in which one squeezes out spiritual hope by intense acts of sheer will. People of "faith" believe the impossible. People of "faith" believe that which is contrary to fact. People of "faith" believe that which is contrary to evidence. People of "faith" ignore reality.

Some suggest we cannot find facts to support our faith, nor is it preferable to try. This is silly. We're enjoined to have faith in part because we have evidence that Jesus rose from the dead.
I think part of the confusion is because Christians are often told to ignore circumstances, meaning that we're not to get overwhelmed or discouraged by them because God is bigger than our troubles. "Have faith in God," we're told. I think that's good counsel as far as it goes, but sometimes it breeds misunderstanding, implying that faith is a blind leap that has no relationship to fact.
Some suggest we cannot find facts to support our faith, nor is it preferable to try. Faith is not the kind of thing that has anything to do with facts, they say. If we have evidence to prove what we believe, then that takes away from real faith.

Somehow these people think that genuine faith is eviscerated by knowledge and evidence. We've made a virtue out of believing against the evidence, as if that's what God has in mind for us. This is all wrong.
Think about it for a moment. J.P. Moreland has suggested that if this is really the Christian view of faith, the best thing that could happen to Christianity is for the bones of Jesus to be discovered. Finding His bones would prove He didn't rise from the dead. When Christians continue to believe that He did, then, they would be demonstrating the most laudable faith, believing something that all the evidence proved was false.
This is silly. We're enjoined to have faith in part because we have evidence that Jesus rose from the dead. If we're encouraged to believe because of the resurrection, then that proves this other view of faith is false. It may be the view Christians hold in many cases, but it is not the view of the Bible. It is not the view of Christianity.

Frankly, if religion is merely an exercise in wishful thinking for me, I wouldn't wish up Christianity. It's far too inconvenient. Indeed, it seems that's part of the reason people hold many of the ludicrous religious views they do. They're appealing. They wish God was impersonal, because an impersonal God can't make the kind of demands on them that a holy God can. An impersonal divine force doesn't cramp their style on Saturday night. Eastern religions are high on individual liberty and low on individual responsibility. That's appealing.

Biblical faith isn't believing against the evidence. Instead, faith is a kind of knowing that results in action.
No, biblical faith isn't believing against the evidence. Instead, faith is a kind of knowing that results in action. Let me explain what I mean.
If we want to exercise biblical faith--Christian faith--then we ought first to find out how the Bible defines faith. The clearest definition comes from Hebrews 11:1. This verse says, "Faith is the assurance of things hoped for, the conviction of things not seen." Now, there's something very important in these words. We see the word "hope," we see the word "assurance," and we see the word "conviction"--that is, confidence. Now, what gives us confidence?

If you buy a lottery ticket, do you hope you'll win the lottery? Yes, of course you do. Do you have any assurance you'll win the lottery? Absolutely not. You have no way of knowing that your ticket is any better than the millions of other lottery tickets out there competing for the same pot.
But what if you had x-ray vision, and you could see through the gray scratch-off coating on the lottery tickets you buy at the supermarket? You'd know if you had a $100, $200 or a $1,000 winner, wouldn't you? In that case, would you merely hope you'd win? No, you'd haveassurance, wouldn't you? You'd have assurance of those things you previously only hoped for. It would be hope with conviction, not a mere hoped, but a hope buttressed by facts and evidence.
That's why the Christian faith cares about the evidence, friends. For the biblical Christian, the facts matter. You can't have assurance for something you don't know you're going to get. You can only hope for it.

This is why the resurrection of Jesus is so important. It gives assurance to the hope. Because of a Christian view of faith, Paul is able to say in 1 Corinthians 15 that when it comes to the resurrection, if we have only hope, but no assurance--if Jesus didn't indeed rise from the dead in time/space history--then we are of most men to be pitied. That's what he says: We are of most men to be pitied.
This confidence Paul is talking about is not a confidence in a mere "faith" resurrection, a mythical resurrection, a story-telling resurrection. Instead, it's a belief in a real resurrection. If the realresurrection didn't happen, then we're in trouble.
The Bible knows nothing of a bold leap-in-the-dark faith, a hope-against-hope faith, a faith with no evidence. Rather, if the evidence doesn't correspond to the hope, then the faith is in vain, as even Paul has said.

So, faith is knowing, and that knowledge is based on evidence leading to confidence or conviction. But biblical faith is more than that. There's another element. Faith is not just knowing. Faith is also acting. Biblical faith is a confidence so strong that it results in action. You're willing to act based on that belief, that faith.

Many of you know that my engineer, Bobby the Bouncer, got married today. Bobby has believedin marriage for a long time, but Bobby never exercised faith in marriage until he walked down the aisle and said "I do" to Jennifer. That's when he put his life on the line for what he believed to be true. He exercised faith.

Friends, Christianity is not denying reality. Biblical Christians don't deny reality, they discover reality. And once they've discovered it, they act on what they've learned.
It's the same way with biblical faith. It's not just intellectual assent. It's not just acknowledging that certain facts about Jesus, the Bible, the resurrection, or whatever, happen to be true. It's taking your life and putting it on the line based on your confidence in those facts.

Consider a guy who pushes a wheelbarrow across Niagara Falls on a tightrope every day. You've seen him do it so many times it doesn't even occur to you he won't make it. You believe with all your heart he can do it.
One day he comes up to you and asks, "Do you believe I can push this wheelbarrow across the tightrope without falling?" And you say, "Of course I do. I've seen you do it hundreds of times." "All right," he says, "get in the wheelbarrow."
Well, now we're talking about a whole different kind of thing, aren't we? The first is an intellectual belief, an acknowledgment of certain facts. The second is active faith, converting your knowledge to action. When you climb into the wheelbarrow, your belief in facts is converted into active trust.

Faith is knowledge in action. It is active trust in the truth. You go to the airport. You say, "This plane goes to New York. I believe it. I'll get on the plane. I'll invest myself in the things I believe to be true." That is biblical faith.

So, when someone asks me the question, Are faith and science compatible?, I'm going to immediately ask for a clarification. What do you mean by faith? If you think faith is mere fantasy and science is complete fact, well then, fantasy conflicts with fact, doesn't it? If faith is a blind leap in the dark, if faith has no concern for the facts, you're in trouble.
If, however, your faith is an intelligent trust in what can't be seen that's inferred from evidence that can be seen--if your faith is a commitment to reality, to acting on what you have good reason to believe is true--well then, there doesn't need to be any conflict at all.
Friends, Christianity is not denying reality. Some people think it is. I'm sympathetic to them because some Christians act as if faith is a kind of sanctified denial. But that isn't what biblical Christianity is about. Biblical Christians don't deny reality, they discover reality. And once they've discovered it, they act on what they've learned.
Indeed, if Christianity is true, in the deepest sense of the word, then it must fit the facts of the real world. So, when we discover the facts of the real world, they can only support Christianity-- if Christianity is true--given that you've interpreted the facts of the world correctly and you've interpreted the scriptural teaching correctly.
Christianity does comport with the facts. If science and religion both have truth as their ultimate goal, then there's no inherent conflict between the two.



Source : 
http://www.str.org/articles/faith-and-facts#.VLsEWCuUdqU
http://www.inspire21.com/stories/faithstories/CharlesBlondin

The Strength of God & the Problem of Evil

What makes you think the ability to take away evil from the world has anything to do with God's strength?
I was thinking about this issue of the problem of evil.  I've read a number of books on it.  I've done a whole teaching on suffering, evil and the goodness of God.  I wrote an article called "Sophie's Dilemma" which we will have in our up-coming journal which will be coming out in June calledClear Thinking.  We had Doug Gievett on four weeks ago, who has written a whole book on the problem of evil and we talked about the issue - the ins and outs about it.  I was thinking about this the other day.  I often try to think through some of these issues and try to get a handle on this to see if there is a shortcut to the solution without undermining the real argument.

When we talked to Doug Gievett, he articulated for us the classical objection to the problem of evil.  The most damaging, potentially, objection to Christianity.  That objection is that there is something inconsistent that Christians believe about the nature of the world and the nature of God.  In other words, the Christian belief is contradictory.  As Dr. Gievett pointed out, having an argument that is contradictory is the worst thing that could happen to you, because it means your view is false.  Period.  So if it can be shown that the Christian view is contradictory then at least at that point of the Christian world view it is false. 

Here's how the objection is usually stated:  If God were all good, as you say, He would want to deal with the problem of evil.  And if God were all powerful, as you say, then He would be able to deal with the problem of evil.  Obviously, evil exists, therefore He is either not all good or He is not all powerful, or maybe He is neither.  In any case, the presence of evil in the world is disproof of the Christian view of God.  See how that argument works?  It is called a defeater.  This particular observation of an apparent contradiction defeats the Christian's viewpoint of God.
Now of course if the argument is sound, then Christianity has been defeated.  I think that is fair to say.  I don't think the argument is sound, though.  And we've talked in different ways about how Augustine has argued and C.S. Lewis has argued and others have unfolded this particular argument and for some it might have been complex.  Well, I'm going to give you a short cut.  Because what Doug Geivett said really stuck in my mind.  He questioned both of the premises.  And his question was, What makes you think that taking away evil in the world has anything to do with God's strength?  Because that is what the assumption is to make the point against Christianity. 

Here is how it can be played out.  This will make it very clear.  When someone raises this to me, I would tell them this story.  Say, Let's suggest that your claim is that you are the strongest person in the world.  More than that, you are the strongest person in the universe.  You can pick up an entire building.  You are so strong that you can pick up an entire city.  You are so strong you can pick up an entire country.  In fact, if you had a place to stand, you could lift the entire planet, even the solar system.  You have so much strength, you can do anything that strength allows you to do.  This is your boast to me.  I say, OK, let's see if you can prove that.  And you say, Just give me any test you want.  I say, If you are so strong as you say, then make a square circle.  You say, Well, I can't do that.  So I could say, You are not very strong, are you? 
You say, This has nothing to do with strength, does it?  Because no matter how strong I was, I could never make a square circle because making a square circle has nothing to do with power.  It is a self-contradictory concept, having square circles.  They can't be made by anybody regardless of how strong they are.  It is unrelated to the issue of power. 

Now, how does this tie into our discussion of the problem of evil?  Simply this.  God certainly is strong enough to obliterate evil from the earth or to have prevented it in the first place.  No question about that.  But is it a good thing that God created human beings as free moral creatures, capable of making moral choices?  The answer to that strikes me as Yes.  Because of God's goodness, which is what is in question here, God creates free moral creatures. 

Now we come to a different kind of problem.  What makes you think that strength has anything to do with God creating a world in which there are genuinely free moral creatures and no possibility of doing wrong?  You see, that's the square circle kind of thing.  It is just as ridiculous to ask God to create a world in which we have genuinely free creatures with no possibility to do wrong, as it is to ask Him to create a square circle.  It has nothing to do with His strength.  It has to do with the nature of the problem.  If you are going to have a particular good, morally free creatures, human beings that can make moral choices for themselves, if God is good, then He is going to create creatures that can be morally free, but that entails of necessity the possibility at least of evil in the world.  It has nothing to do with His power.  It is unrelated to the issue of power just like making square circles is unrelated to the issue of power.  It relates to the nature of the good universe that God created.  A universe that was populated by beings that were morally free.  Morally free creatures by necessity, by definition, have the possibility of going bad.  That's why that is not a good argument against the existence of God.  It just doesn't apply.  One could argue that it's a kind of category error because in this particular case, in the Christian world view, capability of dealing with evil has nothing to do with strength.  It has to do with the nature of the game itself. 

What's neat about the Christian point of view, is that God was capable of doing the good thing and creating morally free creatures that did go bad and still cleaning up the mess that they created in such a way that greater good results.  Now that's the result of a Master mind.

Source : http://str.w2.wadev.com/articles/the-strength-of-god-the-problem-of-evil#.VLsIgiuUdqV

What Science Can't Prove

Source : http://www.str.org/articles/what-science-can-t-prove#.VLsESSuUdqU

~/Media/Default/Article/science_beaker.jpg

If science can't even disprove the existence of unicorns, how can it disprove the existence of God?

I often hear the comment, "Science has proved there is no God." Don't ever be bullied by such a statement. Science is completely incapable of proving such a thing.
I'm not saying that because I don't like science, but rather because I know a little about how science works. Science operates on induction. The inductive method entails searching out things in the world and drawing generalized conclusions about those things based on observation. Scientists can only draw conclusions on what they find, not on what they can't find.

Science, by its very nature, is never capable of proving the non-existence of anything.
For example, can science prove there are no unicorns? Absolutely not. How could science ever prove that unicorns don't exist? All science can do is say that scientists may have been looking for unicorns for a long time and never found any. They might therefore conclude that no one is justified in believing that unicorns exist. They might show how certain facts considered to be evidence for unicorns in the past can be explained adequately by other things. They may invoke Occam's Razor to favor a simpler explanation for the facts than that unicorns exist. But scientists can never prove unicorns themselves don't exist.

Since science, by its very nature, is never capable of proving the non-existence of anything, one can never accurately claim that science has proven God doesn't exist. That's a misuse of the discipline. Such a claim would require omniscience. The only way one can say a thing does not exist is not by using the inductive method, but by using a deductive method, by showing that there's something about the concept itself that is contradictory.

I can confidently say for sure that no square circles exist. Why? Not because I've searched the entire universe to make sure that there aren't any square circles hiding behind a star somewhere. No, I don't need to search the world to answer that question.
The concept of square circles entails a contradictory notion, and therefore can't be real. A thing cannot be a square and be circular (i.e., not a square) at the same time. A thing cannot be a circle and squared (i.e., not a circle) at the same time. Therefore, square circles cannot exist. The laws of rationality (specifically, the law of non-contradiction) exclude the possibility of their existence.
This means, by the way, that all inductive knowledge is contingent. One cannot know anything inductively with absolute certainty. The inductive method gives us knowledge that is only probably true. Science, therefore, cannot be certain about anything in an absolute sense. It can provide a high degree of confidence based on evidence that strongly justifies scientific conclusions, but its method never allows certainty.

If you want to know something for certain, with no possibility of error--what's called apodictic certainty in philosophy--you must employ the deductive method.
There have been attempts to use the deductive method to show that certain ways of thinking about God are contradictory. The deductive problem of evil is like that. If God were all good, the argument goes, He would want to get rid of evil. If God were all powerful, He'd be able to get rid of evil. Since we still have evil, then God either is not good or not powerful, or neither, but He can't be both.

If this argument is sustained, then Christianity is defeated, because contradictory things (the belief that God is both good and powerful in the face of evil) cannot be true at the same time. The job of the Christian at this point is to show there isn't a necessary contradiction in their view of God, that genuine love does not require that there be no evil or suffering, and that preventing such a thing is a non-function of God's power. I think that can be done, and I've addressed that issue in another place (see The Strength of God and the Problem of Evil).
So don't be cowed or bullied by any comments that science has proven there is no God. Science can't do that because it uses the inductive method, not the deductive method. When you hear someone make that claim, don't contradict them. Simply ask this question: "How can science prove that someone like God doesn't exist? Explain to me how science can do that. Spell it out."

Some take the position that if science doesn't give us reason to believe in something, then no good reason exists. That's simply the false assumption of scientism.

You can even choose something you have no good reason to believe actually does exist--unicorns, or leprechauns, for that matter. Make that person show you, in principle, how science is capable of proving that any particular thing does not exist. He won't be able to. All he'll be able to show you is that science has proven certain things do exist, not that they don't exist. There's a difference.
Some take the position that if science doesn't give us reason to believe in something, then no good reason exists. That's simply the false assumption scientism. Don't ever concede the idea that science is the only method available to learn things about the world.

Remember the line in the movie Contact? Ellie Arroway claimed she loved her father, but she couldn't prove it scientifically. Does that mean she didn't really love him? No scientific test known to man could ever prove such a thing. Ellie knew her own love for her father directly and immediately. She didn't have to learn it from some scientific test.

There are things we know to be true that we don't know through empirical testing--the five senses-- but we do know through other ways. Science seems to give us true, or approximately true, information about the world, and it uses a technique that seems to be reliable, by and large. (Even this, though, is debated among philosophers of science.) However, science is not the only means of giving us true information about the world; its methodology limits it significantly.

One thing science cannot do, even in principle, is disprove the existence of anything. So when people try to use science to disprove the existence of God, they're using science illegitimately. They're misusing it, and this just makes science look bad.
The way many try to show God doesn't exist is simply by asserting it, but that's not proof. It isn't even evidence. Scientists sometimes get away with this by requiring that scientific law--natural law--must explain everything. If it can't explain a supernatural act or a supernatural Being then neither can exist. This is cheating, though.

Scientists haven't proven God doesn't exist; they've merely assumed it in many cases. They've foisted this truism on the public, and then operated from that point of view. They act as if they've really said something profound, when all they've done is given you an unjustified opinion.

Wednesday, April 9, 2014

Keunikan Iman Kristen III : Alkitab


Berbeda dengan kitab suci ajaran lain, Alkitab tidak dituliskan dalam satu periode waktu tertentu. Pun Alkitab tidak ditulis atau diwahyukan kepada satu orang saja. Alkitab yang terdiri dari 66 kitab tersebut dituliskan dalam kurun waktu ribuan tahun dan ditulis oleh puluhan orang dari berbagai latar belakang waktu, tempat, budaya, dan status sosial dan tentunya.... mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Sehingga tidak mungkin mereka bersekongkol dalam menuliskannya.

Tetapi uniknya, semua penulis tersebut memiliki satu benang merah yang sama, Yaitu tentang kasih Allah kepada umat yang dikasihiNya dan yang digenapi dalam diri Yesus Kristus. Sungguh ajaib melihat bagaimana Allah mengawal penulisan Alkitab ini dalam kurun waktu ribuan tahun dan dengan latar belakang penulis yang beragam. Kitab-kitab yang satu dengan yang lain saling berkorelasi dan menguatkan. Sama sekali tidak ada kontradiksi didalamnya.

Keunikan Iman Kristen Part II : Pernikahan


Iman Kristen dalam Perjanjian Baru (PB) mengajarkan bahwa relasi antara suami dengan istri adalah bagaikan Kristus dengan jemaatNya. Dalam hal ini, sama seperti Kristus yang mengasihi jemaat dan bahkan karena kasihNya menyerahkan nyawaNya untuk jemaat, seperti itu pulalah kasih seorang suami kepada istrinya. Sungguh mulia dan sakral.

Dalam Perjanjian Lama (PL) juga terlihat bahwa relasi antara Allah dengan umat Israel digambarkan sebagai relasi antara suami dengan istri. Ketika bangsa Israel melupakan Allah dan menyembah dewa lain, Allah memerintahkan Yehezkiel untuk menikahi seorang pelacur dan menyuruh Yehezkiel untuk terus mencintai pelacur tersebut walaupun berkali-kali si pelacur itu berzinah dengan pria-pria lain. Seakan-akan Allah hendak menyamakan tindakan umat Israel yang memuja dewa lain sebagai sebuah perzinahan dalam relasi suami dan istri.

Relasi suami dan istri dalam pernikahan sebegitu sakralya sehingga Firman Allah menyamakan relasi tersebut dengan relasi Allah sendiri dengan umat yang dikasihiNya. Tidak ada suami atau istri yang ingin diduakan, begitupula dengan Allah. Tidak ada iman lain yang memandang pernikahan sekudus dan sesakral iman Kristen. Tidak ada poligami dalam iman Kristen. Pernikahan adalah sekali untuk selamanya sampai maut memisahkan. Karena apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.

Keunikan Iman Kristen Part I : Yesus


Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh dalam kepercayaan lain (seperti Muhammad, Sidharta Gautama, Dewa-dewi Hindu, dll), Yesus sungguhlah unik.

  • Ketika tokoh lain menunjukkan jalan dan cara tertentu untuk memperoleh “surga”, Kristus justru menunjukkan bahwa dirinya sendirilah jalan satu-satunya kepada Allah Bapa.
  • Ketika tokoh lain menunjukkan bahwa sesuatu itu adalah “kebenaran”, Yesus justru menunjukkan dirinya sendiri dengan berkata “Akulah kebenaran”. 
  • Didalam Alkitab, perkataan Yesus dicatat dimana Yesus berkata bahwa Dia sendirilah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, yang tokoh-tokoh agama lain tidak berani menunjuk dirinya sendiri. Yesus begitu unik, dan secara logis hanya tersisa dua opsi bahwa Dia memang benar seperti yang dikatakanNya, atau Dia hanyalah orang gila dan kita bisa merajamNya dengan batu (karena setiap orang boleh saja mengklaim apapun). Dia tidak  boleh hanya sekedar nabi atau guru spiritual yang baik karena seorang guru spiritual yang baik tidak mungkin menyombongkan dirinya dan mengganggap dirinya serupa dengan Tuhan.
  • Yesus juga merupakan satu-satunya manusia yang mati dan bangkit kembali dan naik ke sorga. Dalam Alkitab kita hanya tahu bahwa Henokh dan Nabi Elia diangkat ke sorga oleh Allah tanpa mengalami kematian. Kita juga tahu bahwa Lazarus pernah dibangkitkan dari kematian oleh Yesus Kristus. Tetapi kemudian mati lagi. Kita tentu tahu bahwa hidup kita dibumi memiliki akhir. Lalu mengapa kita tidak mengikuti Yesus yang sudah pernah ada disana, di alam kematian dan bangkit lagi. Lalu kemudian memberikan jaminan hidup kekal bersama Allah di sorga bagi setiap orang yang mau percaya pada Yesus.
  • Namun sebenarnya tidak hanya sampai disitu, Yesus mengklaim dirinya datang dari sorga. Jika tujuan manusia adalah ingin bersama dengan Allah di dalam sorga, mengapa manusia tidak mengikuti Dia yang sudah dulu ada di sorga, yang kemudian turun ke bumi menjadi manusia, mati disalib, turun ke dalam alam maut, bangkit kembali dari kematian dan kembali ke sorga? Dan Dia juga akan datang kelak di hari penghakiman.  Jika anda hendak bepergian ke suatu tempat, bukanlah lebih bijak jika mendengarkan perkataan orang-orang yang sudah pernah disana dan berasal dari sana dibandingkan orang-orang yang sama sekali belum pernah kesana?
  • Karena itu implikasinya kira-kira begini, jika iman Kristen itu benar, maka itu akan menjadi sebuah jaminan tertinggi bagi manusia. Bahwasanya hidup orang yang percaya pada Yesus akan dijamin oleh darahNya dan 100% kelak berada bersama dengan Allah di sorga. Hal ini berbeda dengan kepercayaan lainnya. Jika pun seandainya kepercayaan lainnya itu benar, manusia tidak bisa dijamin 100% bisa masuk ke dalam sorga. Karena agar bisa masuk sorga, mereka harus berusaha keras dan berbuat banyak kebaikan. Sehingga amal kebaikan mereka lebih besar dari kesalahan dan dosa yang telah mereka perbuat. Dalam Iman Kristen, jika seseorang bisa masuk ke dalam sorga, itu hanyalah karena anugerah Allah semata dan bukan karena perbuatan usaha manusia, sedangkan kepercayaan lainnya berdasarkan pada usaha perbuatan amal baik manusia dan tidak ada yang bisa tahu dengan pasti apakah perbuatan baiknya bisa menutupi semua kesalahan dan dosanya.
  • Menurut iman Kristen dan agama Islam, Yesus Sang Juruselamat, lahir dari seorang perawan. Artinya Yesus lahir karena “agenda” Allah dan bukan keinginan seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Allahlah yang sejak dulu hingga sekarang yang berinisiatif mencari manusia yang berdosa. Dalam PL kitab Kejadian, ketika Adam dan Hawa bersembunyi ketakutan karena telah memakan buah terlarang, perkataan pertama Allah adalah “Adam dimanakah engkau” (Kejadian 3:9). Memang, ada satu manusia lagi yang lahir tanpa melalui persetubuhan yaitu Adam. Tetapi iman Kristen dan Islam sepakat bahwa Adam dibentuk dari debu tanah dan menjadi manusia. Tetapi Yesus lahir bukan dari debu tanah, tetapi dari Firman Allah (perkataan Allah) yang disampaikan oleh malaikat Gabriel kepada perawan Maria. Dia dilahirkan dari seorang perawan, mati dikayu salib, bangkit pada hari yang ketiga, dan akan datang kelak di hari penghakiman. 


Sebutan "Anak Manusia" Yang Kontroversial

Dalam Alkitab, sebutan "Anak Manusia" yang dipakai Yesus untuk menunjukkan identitasNya seringkali dipakai orang yang belum mengerti untuk menyerang identitas Yesus. Menurut mereka, sebutan Yesus tersebut justru menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, tetapi hanya manusia biasa.

Lalu mengapa Yesus tidak menyebut diriNya Anak Tuhan? Kenapa Yesus justru menyebut diriNya Anak Manusia?

Pertama, kita harus menyadari konteks tempat dan waktu ketika Yesus mengatakan hal itu. Sebutan Anak Manusia dilontakan Yesus ketika Dia diinvestigasi oleh orang Farisi dan Saduki. Peristiwa ini adalah peristiwa ketika Yesus hendak disalibkan. Kita harus mencatat dulu bahwa orang Farisi dan Saduki adalah kaum agamawan yang tahu tentang hukum Taurat dan kitab para Nabi di Perjanjian Lama yang sudah ditulis ratusan tahun sebelum Yesus lahir dan menjadi acuan seluruh rakyat Yahudi saat itu.

Lalu, apa yang ditanyakan oleh orang Farisi dan Saduki kepada Yesus? Mari kita amati dengan seksama Injil Matius 26:63 :

26:63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."
26:64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.
26:65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. 
26:66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" 
26:67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, 

Perkataan Yesus yang saya cetak tebal tersebut mirip dengan isi dalam sebuah kitab perjanjian lama yang ditulis oleh Nabi Daniel. Kita harus mencatat bahwa bagi bangsa Yahudi, Nabi Daniel adalah sosok yang besar dan dihormati sebagai Nabi Tuhan.

Seandainya Yesus memakai kata "anak Tuhan", maka kata tersebut tidak memiliki makna spesial karena umat Israel di kitab-kitab perjanjian lama juga disebut sebagai "anak Tuhan" (Ulangan 14:1). Tetapi ketika Yesus memakai kata "Anak Manusia" untuk menunjukkan identitasnya, maka semua orang Yahudi akan tahu bahwa Yesus bermaksud lain. Bahwa Dia bukan "manusia biasa". Mereka secara otomatis akan teringat kepada isi Kitab Daniel 7:13. Dalam kitab Daniel tersebut dituliskan mengenai penglihatan yang dialami oleh Daniel dimana Daniel melihat sosok yang menyerupai Anak Manusia tampak datang dalam awan-awan dilangit dan kepadaNya diberikan Allah kuasa dan kemuliaan dan semua orang dari segala bangsa sujud mengabdi kepada Anak Manusia itu.

Berikut isi kitab Daniel 7:13

7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya (Allah Bapa) itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 
7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. 

Itulah yang menyebabkan orang Farisi menganggap Yesus telah menghujat Allah dan patut dihukum mati. Karena seorang manusia biasa yang mengklaim dirinya sama seperti Tuhan adalah sebuah penghujatan dan harus dihukum mati.

Dalam konteks kekinian, pilihan ada ditangan kita. Pertanyaan Yesus kepada Petrus 2000 tahun yang lalu "menurutmu siapakah Aku ini?" terus bergetar sepanjang zaman untuk menantang setiap manusia dalam memutuskan siapakah Yesus bagi dirinya. Apakah Yesus hanya orang gila atau Dia memang benar seperti yang dikatakan-Nya.

Saturday, January 25, 2014

Paradigma


  • Walaupun data real yang didapatkan oleh dua orang sama, tetapi paradigma mereka terhadap data real tersebut bisa berbeda. Misalkan gambar berikut :
Paradigma I : wanita yg sedang berinteraksi dengan kakek di dekat gerbang
Paradigma II : Gambar wajah seorang bangsawan tampak samping2.
  • Dari gambar diatas, tidak ada paradigma yang salah/benar karena memang masih sesuai data real. Tetapi seringkali paradigma kita akan menentukan hasil yang kita dapatkan dimasa depan. Sikap kita (paradigma) terhadap data real lah yang akan menentukan.
  • Misalkan ada 2 orang yang mengalami kelumpuhan kaki. Data realnya ialah kaki nya sudah lumpuh. Tetapi paradigma I melihat bahwa biarpun kakinya lumpuh, dia masih bisa melakukan banyak hal. Sedangkan paradigma II melihat bahwa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia larut dalam kesedihan dan lebih memilih mengasihani diri sendiri. Contoh Data real sama, namun paradigma berbeda! 
  • Paradigma adalah bagaimana cara pandang kita. It is a state of our mind!
  • Pembelajaran paling baik dalam Alkitab mengenai Paradigma adalah kisah 12 pengintai Israel (Bilangan 13).
  • Musa memerintahkan 12 orang para pemimpin dari 12 suku Israel untuk mengintai tanah Kanaan. Pengintaian itu untuk melihat bagaimana kondisi tanah Kanaan dan orang-orang yang ada disana. Tujuan mereka setelah pengintaian itu adalah untuk menguasai tanah Kanaan sehingga diharapkan ada rekomendasi berdasarkan data real di lapangan.
  • 12 orang pengintai berangkat selama 40 hari lamanya untuk mengumpulkan data real mengenai tanah kanaan. Lalu mereka kembali untuk melaporkan hasil pengintaian mereka serta memberikan rekomendasi langkah selanjutnya.
  • 12 pengintai sama-sama memaparkan data real yaitu bahwa tanah Kanaan adalah tanah yang sangat subur dan para penduduk disana sangat kuat. Tetapi paradigma mereka terhadap data real itu bertolak belakang. 10 pengintai berpikir bahwa mereka tidak akan mungkin bisa menguasi tanah Kanaan. Sementara 2 pengintai lain berpikir sebaliknya. Kedua pengintai lain yakin bahwa mereka bisa menguasai tanah Kanaan itu. Kedua paradigma berbeda berdasarkan data real yang sama ini akan membawa hasil yang berbeda bagi diri mereka sendiri.
  • Ke 10 pengintai memilih lebih baik mati ditanah mesir atau dipadang gurun daripada mati di tanah Kanaan. Mereka bahkan belum mencoba. Mereka tidak percaya akan janji Allah dan ke Maha Kuasaan Allah atas semesta ini. Mereka menyebarkan paradigma mereka ini kepada orang-orang Israel lainnya sehingga banyak orang yang tertular oleh mereka.
  • Bayangkan bila ada orang yang sudah berbuat banyak hal yang baik bagi dirimu, tetapi dia terus menerus tidak percaya pada mu. Anda tentu akan tersinggung dan marah. Allah juga murka atas ketidakpercayaan ke 10 pengintai tersebut. Allah sudah berbuat banyak hal dan melakukan banyak mukzizat dihadapan mata kepala mereka sendiri. Tetapi mereka tetap tidak mau yakin dan percaya.
  • Oleh karena itu penting untuk memiliki paradigma yang "benar". 
  • Paradigma yang benar terbentuk dari pengenalan kita akan Allah. 
  • Pengenalan akan Allah lahir dari disiplin rohani dan kualitas relasi kita dengan Allah. 
  • Lewat disiplin rohani dan kualitas relasi yang baik dengan Allah, kita akan menyadari bahwa Tuhan telah memberikan banyak anugerah dan berkatNya atas hidup kita selama ini. Bahkan rela memberikan Yesus Kristus untuk menebus dosa kita. Apa lagi yang tidak akan Dia berikan bagi kita?
  • Lewat pengenalan itu, kita akan memiliki paradigma dan sikap yang benar terhadap semua data real yang kita alami dan dapatkan dalam hidup ini.

Tuesday, November 5, 2013

If God Is Dead..

I ever watched a film titled "Abraham Lincoln : Vampire Hunter". Of course from the tittle we know that film is a kind of fiction. But there is an interesting statement i got from that film. In one scene, The antagonist character said that human is naturally "enslaved" by something, whether is a conviction, hunger for power, love, money, etc.

That statement make me think again the inevitable truth about human's nature that God himself create human with hunger for Him. If we look back in a history of human kind, ancient humans have some kind of sense of admiration or fear to thunder, big mountain, rock, tree, and so on. They worshiped it all. I think that is an evindence of our longing to God himself. Somewhere in our heart, we believe that there is a great power beyond us as a human that control all the universe. But as all human have sinned, we will never able to know Him correctly except He reveal himself to us. The imperfect will never reach the perfect one. It is only God who has the initiative to reach human, not the opposite.

In my humble opinion, i think the very basic of our hunger, is our hunger for love. We want to love and be loved simply because it will make us feel happy and joyful. Love is the basic human need. In love there is respect, charity, goodness, and meekness. Is not that what we are looking for in life? Christian faith said that God is Love. And it also means that we should need God. For God is love itself.

But, how if human choose to deny the existence of God?

Again, i think, it is not possible. If we deny God's existence, somebody/something must take His place, for we are created with hunger for Him. We must make gods for ourself if we chose to deny God.

Malcom Muggridge once said briliantly :
“If God is dead, somebody is going to have to take his place. It will be megalomania or erotomania, the drive for power or the drive for pleasure, the clenched fist or the phallus, Hitler or Hugh Hefner.”
 So please do not seek pleasure beyond God himself for there is no such thing ever existed. I belive, if we try to seek happines/joyful/pleasure beyond God, we will end up in regret. Human is created to be "enslaved" to God. Because He himself who created us. We will always hungry for Him. Of course for our own good. That is what i belive.

Wednesday, October 9, 2013

Mengapa Peristiwa Kebangkitan Yesus Tidak Mungkin Bohong?

Kebangkitan Yesus adalah dasar iman Kristen. Jika Yesus tidak bangkit maka sia-sialah iman Kristen. Lalu adakah alasan untuk kita bisa percaya pada peristiwa itu? Setidaknya ada beberapa daftar alasan yang bisa kita pertimbangkan sebelum menolak percaya pada peristiwa kebangkitan Yesus. Hanya butuh pemikiran yang kritis namun tetap rendah hati untuk mau mencari kebenaranya.

Sebelum mengupas alasannya, saya ingin kita memiliki pemahaman penting dan ingat akan hal ini :

1. Bahwa Alkitab adalah sebuah kumpulan dokumen sejarah yang telah berusia ribuan tahun yang ditulis oleh para penulis dari berbagai zaman.
2. Kitab Injil adalah 4 kitab yang ada dalam Alkitab yang terdiri dari kitab Matius, kita Markus, kitab Lukas, dan kitab Yohanes. Empat kitab Injil inilah yang menuliskan kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus ke surga.

Pertama. Dalam kumpulan dokumen-dokumen kuno yang ditulis dalam rentang waktu ribuan tahun dan dikumpulkan menjadi satu buku (baca : Alkitab), Yesus berkali-kali menubuatkan peristiwa kematian lalu kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga. Disebutkan bahwa awalnya para murid Yesus tidak mengerti nubuatan Yesus itu. Mereka justru ketakutan dan lari berpencar ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani lalu dieksekusi mati (disalibkan). Bahkan ketika para murid mendengar lalu melihat kubur Yesus yang kosong, mereka sendiri (awalnya) tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit. Para murid awalnya menganggap bahwa jasad Yesus telah dicuri. Ketidakmengertian, ketakutan, dan ketidakpercayaan awal para murid dalam proses kematian dan kebangkitan Yesus semua jelas tertulis dalam kitab Injil. Jelaslah bahwa tiga hal itu adalah aib bagi para murid dan menuliskan naskahnya menjadi sebuah kitab Injil berarti menuliskan "aib" mereka sendiri, dimana mereka sendiripun awalnya tidak mengerti, ketakutan, dan tidak percaya akan peristiwa kebangkitan Yesus.

Lalu timbul pertanyaan :
Untuk apa mereka mau menuliskan aib mereka sendiri kecuali bahwa hal itu adalah sebuah kebenaran? Bukankah semua orang ingin tampak baik dan sempurna dan meninggalkan sesuatu yang baik?
Dan jika para murid mengekspos aib tersebut, tidakkah para murid berpikir bahwa itu bisa berdampak pada pengajaran mereka saat itu? (para murid Yesus gencar melakukan pemberitaan iman Kristen setelah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus)

Oke, mungkin ada orang yang beranggapan bahwa itu hanya dramatisasi para murid saja. Lalu bagaimana anda menjelaskan argumen berikutnya ini.

Kedua. Seandainya para murid merekayasa peristiwa kebangkitan Yesus, mengapa mereka bersedia mati demi mengabarkan Injil sampai keseluruh bumi? Mereka tidak dapat apa-apa baik harta ataupun jabatan. Mereka justru dihina, ditolak, dan bahkan dibunuh karena pemberitaan mereka. Bukankah awalnya para murid itu ketakutan ketika Yesus ditangkap dan disalib? Bukankah awalnya mereka juga menganggap bahwa mayat Yesus sudah dicuri ketika menemukan kubur Yesus yang kosong? Kecuali mereka melihat sendiri dengan mata kepala mereka bahwa Yesus telah bangkit, sepertinya tidak ada alasan lain yang membuat mereka tiba-tiba berubah menjadi pemberani bukan?


Ingat bahwa pada zaman itu, iman Kristen adalah ajaran yang awalnya memiliki penganut yang sangat sedikit. Pada zaman itu ajaran yang memiliki banyak penganut adalah kepercayaan terhadap dewa-dewi (politeisme). Namun saat ini, iman Kristen sudah terpencar ke berbagai pelosok dunia dan memiliki banyak penganut akibat usaha mati-matian para murid dalam menyebarkan iman Kristen.

Frontispiece to the 1761 edition ofThe Book of Martyrs

Ketiga. Berita kebangkitan Yesus sepertinya bukanlah sebuah rekayasa para murid karena mereka menuliskan dalam Alkitab bahwa para wanita lah yang pertama kali melihat kubur kosong itu lalu memberitahukannya kepada para murid Yesus. Kita harus mencatat bahwa pada zaman itu, budaya Yahudi, Romawi, dan Timur Tengah, sangat memandang rendah kedudukan wanita. Wanita tidak sama kedudukan sosialnya dengan pria. Kesaksian para wanita juga tidak boleh dipercaya begitu saja. Lalu untuk apa para murid menuliskan dalam Alkitab bahwa para wanitalah yang pertamakali melihat kubur Yesus yang kosong? Bukankah hal itu berpotensi mengurangi validitas mereka kalau seandainya mereka berniat merekayasa berita Injil?

Keempat. Paulus yang merupakan penginjil besar, dulunya adalah seorang musuh gereja. Paulus dididik oleh agama Yudaisme yang ketat. Dia adalah kaum terdidik dalam hal agama Yahudi. Oleh karena itu dia awalnya tidak percaya kepada Yesus dan bahkan sudah banyak menindas para pengikut Kristus. Kalau hanya sekedar mendengarkan berita kebangkitan Yesus, tidak mungkin lantas membuat Paulus langsung percaya. Kecuali dia melihat sendiri Yesus yang bangkit, tidak ada alasan lain yang masuk akal yang menjelaskan perubahan sikapnya menjadi seorang pengikut Kristus yang bahkan rela mati demi Injil.

Kelima. Orang-orang yang memusuhi Yesus (baca : orang Farisi dan Saduki) juga beranggapan dan menyebarkan isu bahwa mayat Yesus telah dicuri (ketika mendengar kubur Yesus yang sudah kosong). Sementara para murid Yesus bersaksi bahwa mereka melihat Yesus sudah bangkit dan menampakkan diri-Nya pada mereka. Setidaknya dua kubu ini (baik orang Farisi dan murid Yesus) sepakat dalam satu hal, yaitu kubur Yesus yang kosong, tetapi berbeda dalam hal menjelaskan mengapa kubur itu kosong. Kubur kosong juga harus diperhitungkan. Tetapi jika melihat empat bukti diatas, seperti penjelasan para murid lebih dapat diterima akal, yaitu bahwa Yesus memang benar-benar bangkit.

Kelima daftar diatas adalah fakta-fakta yang dapat dipertimbangkan untuk secara serius menanggapi kebenaran dalam peristiwa kebangkitan Yesus. Jika ada pendapat/teori yang menentang kebangkitan Yesus, mereka juga harus mampu menjelaskan kelima fakta diatas. Bukti arkeologi dan dokumen-dokumen kuno yang memperkuat dugaan Yesus yang bangkit juga haruslah bisa dijelaskan dengan seksama.

Sebuah lukisan karya seniman Italia, Caravaggio dari abad 16 yg menggambarkan penyaliban Petrus (Crucifixion of St. Peter)

Saturday, August 24, 2013

Sebuah Paradoks : "Semua Sudah Ditakdirkan"

Mazmur 139:16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. 

Bagi beberapa orang, masa depan bisa diubah tergantung dari apa yang sedang kita lakukan saat ini. Tapi setelah saya renungkan, ternyata pendapat tersebut kurang tepat. Kitab Mazmur 139:16 mengatakan bahwa jalan hidup kita sudah tertulis. Kalau saya berkata bahwa Allah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita di masa depan, mungkin semua pasti setuju karena kita sepakat bahwa Allah Maha Tahu. 

Tapi kesepakatan itu membawa implikasi penting bahwa sebenarnya jalan hidup kita sudah diatur oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah rencana Tuhan atas dunia ini dan atas hidup kita. Kapan kita lahir, kapan kita mulai bekerja, kapan kita menikah, kapan kita mati, semua sudah diatur oleh Tuhan dan kita tidak bisa mengubah itu. Pak Basuki (Ahok), Wagub DKI Jakarta, pernah berkata bahwa ketakutan terhadap sesuatu tidak akan memperpanjang usia kita. Hidup mati sudah diatur oleh Tuhan dan Pak Ahok hanya taat pada konstitusi dalam menjalankan tugasnya meskipun itu berarti harus melawan para bandit di Jakarta.

Memang dibagian ini saya masih belum bisa mengerti sepenuhnya karena disatu sisi Allah sudah mengatur jalan hidup setiap orang dan disisi lain saya juga berpendapat bahwa dalam kasih Nya Allah akan memberikan kebebasan bagi orang dalam menentukan pilihan hidupnya. Seperti sebuah paradoks bukan?

Tapi saya yakin bahwa teka-teki tersebut tidak akan pernah mampu dijawab oleh siapapun karena itu diluar pemikiran manusia. Saya lebih memilih untuk menjalani kehidupan saya dengan taat kepada Tuhan dalam mengambil pilihan-pilihan hidup saya. Namun disisi lain saya yakin bahwa hidup saya sudah diatur oleh Dia (Yeremia 29:11). Jadi dengan paradigma berpikir seperti itu, seharusnya tidak ada yang perlu saya kuatirkan dalam hidup ini jika saya taat dan percaya pada Nya, karena janji Tuhan adalah rancangan yang baik atas hidup kita.

Jadi sebenarnya tidak ada yang bisa kita sombongkan dalam hidup ini. Segala sesuatunya berasal dari Dia, diatur oleh Dia, dan untuk Dia. 

Saturday, July 27, 2013

Apa Yang Anda Tangisi?

Baru-baru ini saya cukup tergelitik membaca sebuah berita di Kompas yang mengatakan bahwa salah seorang artis Indonesia menangis karena berat badannya yang naik. Kontras dengan itu, baru-baru ini juga, saya menonton sebuah film yang luar biasa bagus berjudul Schindler List. Di film itu, aktor utamanya, Oscar Schindler juga menangis karena dia merasa seharusnya dia masih bisa menyelamatkan satu lagi nyawa manusia dari kekejaman Adolf Hitler dan tentara Nazi. Lalu saya bertanya, mengapa yang seorang menangis karena berat badannya yang naik sementara yang seorang lagi menangis karena merasa seharusnya masih bisa menyelamatkan satu nyawa manusia lagi?

Pertanyaan ini meyakinkan saya kepada sebuah kesimpulan penting yaitu, apa yang kita tangisi biasanya dapat menjadi indikator karakter kita.

Kalau kita menangis karena lapar, merasa tidak nyaman, atau ingin cari perhatian, kita tidak berbeda jauh dengan bayi karena bayi juga seperti itu. Kalau kita menangis karena usaha kita tidak dihargai dan ditolak orang lain mungkin karena kita lebih mengasihi diri sendiri. Atau menangis karena tidak tahan/gagal menghadapi tantangan hidup yang berat.

Apa yang membuat Anda menangis?
Pertanyaan kepada diri sendiri ini membawa saya kembali mengingat kisah tangisan Nehemia (Nehemia 1:4), tangisan Yeremia (Yer 9:1), tangisan Paulus (Kis 20:19) dan bahkan tangisan Yesus (Luk 19:41). Baik Nehemia, Yeremia, Paulus, dan Yesus menangis untuk suatu tujuan yang lebih besar dari diri sendiri yaitu untuk kepentingan orang banyak dan kemuliaan Allah. Seringkali linangan air mata kita menunjukkan level keseriusan kita dalam komitmen kita untuk menjadi berkat bagi orang banyak.

Apa yang membuat Anda menangis?

Thursday, July 18, 2013

Maraknya Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis

 Sebenarnya pengertian dosa bisa dipadatkan menjadi seperti berikut : "Segala perbuatan manusia yang menyimpang dari maksud dan tujuan Allah atas manusia".
Salah satu contoh sederhana ialah : membunuh itu dosa karena maksud dan tujuan Allah ialah agar manusia saling mengasihi.

Pernikahan sesama jenis yang sudah mulai banyak dilegalkan di beberapa negara maju, tentu saja adalah sebuah dosa. Karena salah satu maksud dan tujuan Allah atas pernikahan ialah agar manusia beroleh keturunan dan memenuhi bumi ( Kejadian 1:28). Selain itu ketika Allah berkata "tidak baik manusia itu (Adam) seorang diri saja", Allah tidak menciptakan seorang lelaki lagi, melainkan seorang wanita (Kejadian 2:18). By the way, ini adalah kali pertama Allah berkata "tidak baik" atas ciptaan-Nya setelah sebelum-sebelumnya Allah selalu berkata "baik" terhadap apa yang sudah terlebih dulu diciptakan-Nya.

Semua hal diatas adalah maksud dan tujuan Allah atas pernikahan dan kekristenan merupakan iman yang menjunjung tinggi kekudusan pernikahan karena hubungan antara Kristus dan gerejaNya diibaratkan seperti mempelai lelaki dan mempelai wanita, yaitu dalam pernikahan. (Matius 9:15, Matius 25, Yoh 3:29, Wahyu 19:7).

Tentu saja jika kita memakai dasar Iman Kristen pernikahan sesama jenis adalah sebuah dosa yang menjijikkan. Dan seharusnya setiap orang Kristen adalah orang yang paling terdepan dalam menolak pernikahan sesama jenis.

Tetapi miris melihat bagaimana negara-negara yang dulunya merupakan kantong-kantong Kristen (seperti Australia, Belanda, Spanyol, Inggris, dll) berubah arah menjadi negara yang melegalkan pernikahan sejenis. Fenomena ini menunjukkan bahwa Kebenaran Mutlak itu telah disingkirkan dan diganti dengan kebenaran manusiawi yang berasal dari hawa nafsu semata.

Tentu saja fenomena ini tidak terjadi dalam satu malam saja, tetapi merupakan sebuah proses yang sudah terjadi beberapa waktu lalu yang sengaja/tidak sengaja dibiarkan sehingga menghasilkan fenomena ini. Saya selalu menyukai ilustrasi katak untuk menjelaskan mengapa fenomena menyimpang ini bisa terjadi.

Akhir ceritanya adalah seekor katak yang mati dalam air mendidih. Namun awalnya adalah begini : ketika katak ditempatkan dalam kuali berisi air dingin yang perlahan-lahan dipanaskan hingga mendidih, si katak tetap berenang-renang dengan tenang tanpa menyadari apa yang terjadi. Tetapi seandainya katak yang sama dicemplungkan kedalam air yang mendidih, ia pasti akan segera melompat keluar dari kuali demi keselamatannya. Perubahan secara perlahan-lahan tidak diperhatikannya, dan ia menyesuaikan dirinya melampaui batas yang masuk akal, padahal perubahan yang drastis segera diresponnya dengan akal sehat demi keselamatannya.

Dan sesungguhnya seperti itulah cara iblis berusaha untuk melencengkan maksud Allah terhadap manusia. Secara perlahan-lahan yang tidak disadari oleh manusia itu sendiri.

Perhatikanlah era ini dimana kebenaran relatif menjadi sesuatu slogan zaman ini. Terhadap isu pernikahan sejenis, banyak yang berpendapat "selama tidak ada yang merasa dirugikan mengapa harus dilarang?". Tentu terhadap orang dengan pemikiran seperti itu Kebenaran Allah tidak relevan lagi. 

Surat II Timotius 3 menjelaskan bahwa pada hari-hari terakhir, manusia akan mencintai dirinya sendiri, mengikuti hawa nafsunya, dan menolak Kebenaran Allah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai orang percaya menghadapi fenomena ini?
Menurut saya :
  1. Berdoa terhadap hal ini
  2. Menjaga pondasi kita agar tetap kokoh didalam Tuhan melalui disiplin rohani
  3. Ambil bagian (misalnya menjadi politisi yang menentang undang-undang yang melegalkan pernikahan sejenis).
Rekomendasi bacaan yang relevan : Judul : Deliver Us From Evil. Penulis : Ravi Zacharias

Menggombali Tuhan


Tuhan ampuni kami kalau sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak sungguh-sungguh ketika mengatakan dan menyanyikan itu semua

Tuhan ampuni kami kalau kami sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak menyadari makna dari semua kata-kata kami 

Tuhan ampuni kami kalau kami sering menggombali Mu
Ketika kami berdoa atau ketika kami bernyanyi memuji nama Mu
Mulut kami mengeluarkan kata-kata yang begitu manis dan indah di dengar
Tetapi kami tidak menghidupi apa yang kami doakan atau nyanyikan

Tuhan kami tidak mau menggombali Mu lagi
Biarlah setiap doa dan nyanyian yang kami panjatkan
Berasal dari hati kami yang terdalam karena kami menyadarinya
Dan yang paling penting menghidupinya

Tuhan kasihanilah kami orang yang berdosa ini


Saturday, June 29, 2013

Musik dalam Ibadah

Menurut pemahaman saya, dalam konteks ibadah Kristen, musik ibarat kendaraan dan lirik lagu adalah pesan yang ingin disampaikan. Jika "kendaraan" nya tidak baik, maka pesannya tidak akan tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, sebelum melakukan aransemen musik dalam ibadah, pemusik perlu memperhatikan setidaknya dua poin penting yaitu penghayatan terhadap lirik lagu dan suasana ibadah yang hendak dibangun.