Saturday, March 31, 2012

Berani Berbeda!

Saya ingin mengawali tulisan kali ini dengan kutipan puisi karya Robert Frost yang berjudul "The Road Not Taken"..Saya sengaja tidak ingin menerjemahkannya karena saya takut akan mengkerdilkan maknanya..Tiap baris dalam puisi ini sungguh dalam dan kuat..

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;      

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,       

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.       

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I..
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

And that has made all the difference...Dan itu mengubah segalanya... 

Pernahkah anda berada dalam persimpangan kehidupan yang dihadapkan dengan beberapa pilihan? Pernahkah anda mengambil pilihan dalam hidup ini yang sepengetahuan anda tidak pernah dipilih orang? Atau jarang sekali dipilih oleh kebanyakan orang?

Orang-orang yang berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah adalah orang-orang yang berani berbeda memilih jalan yang tidak pernah/jarang dilalui orang. Copernicus diingat sampai sekarang karena berani berbeda dari semua orang dengan teori kontroversialnya kala itu : bahwa bumi bukanlah pusat semesta. Colombus memilih jalan yang tidak pernah dilalui orang dengan melakukan breakthrough menemukan benua Amerika. Ciputra berbeda karena memilih berinvestasi untuk membangun Ancol dimana kala itu tidak ada seorangpun yang mau berinvestasi disana. Daftar ini bisa bertambah panjang jika ingin diteliti lebih lanjut. Mereka semua adalah pioner. Mereka semua adalah trendsetter. Mereka semua adalah pelopor dan perintis. Dan karena keberanian dan kemampuan mereka memilih jalan yang jarang dilalui orang, mereka tercatat dalam sejarah dunia.

Saya sendiri hingga sampai saat ini (sepertinya) belum pernah melakukannya. Dari keseluruhan jalan-jalan yang telah saya lalui di beberapa persimpangan kehidupan, saya selalu memilih jalan yang paling sering dilalui orang. Saya terlalu takut untuk tampil berbeda dari orang lain. Saya terlalu pengecut untuk memilih cara hidup yang hati saya berkata "A" tetapi saya memilih "Z" hanya karena orang banyak sudah menempuh cara itu. Hasilnya, saya hanya menjadi follower. Saya ikut arus orang kebanyakan. 

Dan kali ini salah satu persimpangan jalan yang sebentar lagi akan saya jumpai ialah "jalan manakah yang akan saya pilih setelah lulus kelak?"
Dari jarak yang tidak begitu jauh lagi dari "persimpangan" tersebut, saya hanya melihat dua cabang jalan. Cabang yang satu (yang telah banyak dilalui oleh orang) ialah "Mencari Pekerjaan" dan cabang yang lain (yang jarang dilalui oleh orang) ialah "Menciptakan Pekerjaan". Tapi saya juga melihat samar-samar ada cabang yang lain (yang katanya cukup banyak dilalui oleh orang) adalah "Mencari Perkejaan Lalu Menciptakan Pekerjaan". Tapi entah mengapa pandangan saya belum cukup jelas untuk melihat jalan itu. Mungkin setelah saya sampai disimpang tersebut, jalan ketiga itu akan lebih jelas arahnya.

Tapi intinya, ada dua jalan yang saya lihat sekarang sebelum saya sampai sedikit lagi di persimpangan itu. Saya hanya ingin ketika sampai di persimpangan nanti, saya sudah punya pilihan jalan mana yang harus saya ambil. Saya tidak ingin berlama-lama disimpang karena kebingungan dalam memilih jalan. Sebelum saya sampai dipersimpangan sebentar lagi, saya harus memikirkan dengan cermat pilihan saya. Satu pilihan ini akan menentukan masa depan saya.

Untuk seterusnya, saya tidak akan memilih jalan hidup hanya karena jalan itu sudah dilalui oleh banyak orang. Saya ingin memilih jalan hidup hanya karena "Lentera Jiwa" saya yang menuntun saya. Apakah pada akhirnya lentera itu menuntun saya pada jalan yang sering dilalui orang ataukah lentera itu menuntun saya pada jalan yang jarang dilalui orang. Saya tidak akan membuat pilihan hanya karena di-drive oleh rasa takut saya. Jika lentera jiwa menuntun saya untuk memilih jalan yang jarang dilalui oleh orang, saya akan menjalaninya dan  jika lentera jiwa (bukan rasa takut) menuntun saya untuk memilih jalan yang telah sering dilalui oleh orang, saya juga akan menjalaninya. Saya ingat kata-kata dari Bapak TB Silalahi ketika beliau berkunjung ke asrama  Yayasan Soposurung : "Dimanapun emas tetaplah emas". Ya, saya adalah emas. Hidup saya berharga. Dan kemanapun Lentera Jiwa menuntun jalan hidup saya, saya tetaplah emas.

Tetapi jika harus jujur, saya punya perasaan yang kuat bahwa Lentera Jiwa menuntun saya untuk memilih jalan yang jarang dilalui orang. Saya tidak bisa membohongi diri saya. Tetapi hingga sekarang saya tidak yakin apakah saya akan mampu menjalaninya. Saya belum punya cukup punya nyali untuk memilih jalan itu. Saya juga belum punya cukup kemampuan untuk melaluinya. Jalan itu sulit, berbatu, berbelok-belok, penuh tantangan dan kejutan. Saya belum siap walaupun Lentera Jiwa saya mengatakan itulah jalan hidup saya. Jika saya belum punya cukup keberanian dan kemampuan sampai saya tiba di persimpangan itu, maka saya tentu akan memilih jalan yang sudah banyak dilalui orang. Tetapi untuk jalan yang satunya lagi dibutuhkan effort yang lebih besar. In the end, hanya ada satu pertanyaan yang tersisa : Apakah saya mau memberikan effort yang besar untuk mampu memilih jalan itu?

I want to be a trendsetter not follower! I want to be a pioneer not imitator!
I will do things only because of me not because people say so

Waktu hidup saya terbatas, saya tidak akan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Saya tidak akan terperangkap dengan dogma dan hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Saya tidak akan membiarkan omongan orang menulikan saya sehingga tidak mendengar perkataan-perkataan Tuhan kepada saya. Dan yang terpenting, saya akan memiliki keberanian untuk mengikuti apa yg Firman Tuhan katakan, sehingga saya pun akan sampai pada apa yang yg menjadi tujuan dan panggilan hidup saya. His Words is my Soul's Lantern, Lentera Jiwa saya!

Tuesday, March 27, 2012

Pameran Gambar Inspirasional

Gambar bisa menceritakan banyak hal dan memberikan inspirasi ketika kita mengamatinya. Berikut ini adalah gambar-gambar yang sarat dengan pesan moral dan memberikan inspirasi buat saya ketika pertama kali melihatnya.






Monday, March 26, 2012

Kolerik-Melankolik

Dulu ketika SMA saya pernah ikut tes kepribadian (psikologi). Disamping mengukur tingkat kecerdasan, tes itu juga disusun sehingga mampu melihat karakter seseorang. Untuk soal kecerdasan, tes tersebut mengatakan IQ saya berada diatas rata-rata orang pada umumnya (walaupun tidak dapat predikat "genius"). Nah, untuk soal karakter, tes tersebut mengatakan bahwa saya adalah tipikal orang yang didominasi oleh tipe kolerik dan melankolik. Saya lupa angka persisnya, tapi urutan nya karakter mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil ialah :
1. Kolerik
2. Melankolik
3. Sanguin
4. Plegmatis
Untuk nomor 3 dan 4, saya ingat angkanya sangat kecil sekali. Lebih banyak di nomor 1 dan 2 (Kolerik-Melankolik)


My Melancholic Side ( Turunan dr Bapak saya )
Saya teringat pesan-kesan abang KTB saya, bg Hendra Tampang Allo ketika perayaan hari ulang tahun saya dua tahun lalu di sekre PMK OH.
"Harry itu adalah tipikal orang yang mudah di drive oleh perasaan"
Silakan percaya atau tidak, buat saya perkataan bg Hendra memang benar. Ternyata selama interaksi kami kurang lebih 2 tahun sudah cukup untuk bg Hendra untuk mengenal secara mendalam karakter saya. Biarpun diluar saya kelihatannya cool, tetapi saya tipikal orang yang sangat sensitif dan peka. Saya gampang terbawa emosi dari lingkungan ataupun dari diri sendiri. Mungkin hari ini ada yang melihat saya tertawa tetapi lusa sudah tidak melihat sedikit senyum pun karena sebuah hal. Saya juga sangat peka terhadap perasaan orang disekitar saya. Dari mimik wajah, cara berbicara, dan bahasa tubuh seseorang, saya bisa dengan cepat menerka kondisi emosinya dan terkaan saya biasanya tepat. Walaupun diluar karakter saya cenderung kalem dan kadang tanpa ekspresi, tp sebenarnya saya orang yang cenderung memakai feeling (intuisi) ketimbang logika. Disamping itu saya juga orang yang sangat teliti dalam bekerja dan mampu melihat hal-hal mendetail yang cenderung tidak dilihat orang.
Yeah, that's my melancholic side...

My Kolerik Side ( Turunan dr Mama Saya )
Anehnya, setelah duduk di bangku kuliah, tipe kolerik saya cenderung tidak kelihatan. Orang kolerik itu biasanya punya naluri memerintah, suka show-off, tidak suka diatur, ambisius, semangat pekerja keras, agak keras kepala dan terkesan sombong. Karakter-karakter seperti yang saya sebutkan sebelumnya adalah watak dominan saya sejak kecil hingga SMA.
Karakter kolerik saya dapat terlihat dari naluri saya yang ingin memerintah dan memimpin. It's born with me. It's in my DNA. Ketika masih SD hingga di tingkat SMA saya adalah anak yang selalu ingin jadi pusat perhatian, memerintah orang, selalu ingin tampil dan terdepan, selalu menjadi ketua kelas, ketua OSIS, ketua diberbagai kegiatan, ambisius dalam mengukir berbagai prestasi baik akademik maupun non-akademik.
That's all my kolerik side...

Tapi sejak duduk dibangku kuliah, karakter Kolerik saya tertutup oleh karakter Melankolik saya. Saya berubah menjadi orang yang tertutup, tidak seambisius dulu, agak kaku, cenderung menghindar dari kesempatan-kesempatan untuk menjadi pemimpin, tetapi juga berubah menjadi orang yang punya kepekaan, suka merenung, serius, dan sangat perfeksionis.

Perpaduan Kolerik-Melankolik
Perpaduan kedua sifat yang agak bertolak belakang tersebutlah yang membuat saya terkesan gampang berubah moodnya (moody). Mungkin hari ini saya bisa terlihat sangat ambisius dan penuh semangat, tetapi besok bisa saja saya kelihatan seperti orang yang patah semangat. Mungkin hari ini saya bisa terlihat sangat peka, tetapi mungkin saja besok saya terlihat arogan dan bossy. 
Buat saya, yang jauh lebih penting ialah mempertahankan kekonsistenan dalam usaha saya mewujudkan visi hidup. Kedua sisi kolerik dan melankolik dalam diri saya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya hanya harus memoles kelebihan-kelebihan dikedua tipe tersebut dan mengurangi kekurangan-kekurangannya sehingga saya bisa menjadi pribadi yang saya inginkan ; penuh semangat, pantang menyerah, punya empati yang tinggi, berjiwa pemimpin, bertanggung jawab dan bijaksana.

Thursday, March 22, 2012

Yusuf, Si Pemimpi

Dalam kitab perjanjian lama, nama Yusuf (buat saya) selalu berkolerasi dengan IMPIAN. Korelasi itu bukan tanpa sebab. Dalam Alkitab kita tahu, bagaimana Yusuf mendapatkan mimpi-mimpi besar yang diberikan oleh Allah tentang kehidupannya di masa yang akan datang.

Mimpi-mimpi yang didapatkan Yusuf tentang dirinya telah membuat orang tua dan saudara-saudaranya gusar. Dalam mimpinya, Yusuf akan menjadi orang yang besar diantara seluruh keluarganya. Bagaimana reaksi orang tuanya? Kira-kira seperti ini
"Nak, sudahlah, jangan bermimpi terlalu besar." atau mungkin "mimpimu terlalu mengada-ada"
Bagaimana reaksi saudara-saudaranya? Kira-kira seperti ini
"ini dia, si tukang pemimpi yang mengira dirinya adalah pusat semesta"

Bagaimana perasaan kita ketika mimpi-mimpi kita tidak didukung dan bahkan ditentang oleh banyak orang termasuk orang-orang terdekat anda sendiri? Yusuf tahu bagaimana rasanya dan dia pernah mengalaminya. Dia dikucilkan dan dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri hanya karena memiliki impian yang terlalu besar dan mengada-ngada.

Selanjutnya, kita juga tahu bagaimana kehidupan Yusuf pasca mendapat mimpi-mimpi indah tersebut. Pada awalnya, mungkin Yusuf sempat berpikir bahwa realitas tidak seindah mimpi, dan bahkan jauh dari mimpi-mimpinya. Bagaimana tidak? Dia bermimpi menjadi orang yang besar, tetapi dia sempat hendak dibunuh oleh saudaranya, sebelum akhirnya dijual menjadi budak.
Sampai dititik itu Yusuf tentu bertanya-tanya, "bagaimana mungkin ini bisa terjadi?". Aku tidak bermimpi menjadi budak !"
Tetapi ternyata tidak cukup sampai disitu, Yusuf masuk dari kemalangan yang satu ke dalam kemalangan-kemalangan berikutnya. Setelah dijual menjadi budak, Yusuf difitnah hendak memperkosa majikannya, akhirnya dia dipenjara dan dilupakan.
Tetapi apakah mimpi Yusuf terbenam seiring dengan keadaan yang membenamkannya?
Saya pikir tidak. Mimpi itu, sekecil apapun yang tersisa, masih tersimpan dalam benak Yusuf. Entah mengapa dia masih yakin terhadap mimpi-mimpinya tersebut bahwa suatu saat keadaan akan berubah menjadi lebih baik dan amat sangat baik. Mungkin kemalangan-kemalangan ini hanyalah pengantarnya saja, pikirnya.

Dan Yusuf benar. Kekonsistenan Yusuf untuk menjaga mimpi dan takut akan Allah telah mengantarkan Yusuf menjadi "Perdana Menteri" di negara Mesir. Alkitab bahkan mencatat bahwa apa yang dikerjakan Yusuf selalu berhasil karena Tuhan menyertai dia.

Mimpi adalah motivasi
Perjuangan adalah implementasi, dan
Hidup harus menginspirasi

Berani bermimpi dan berlari kencang mengejar mimpi!


Saturday, March 17, 2012

Pikiran dan Tindakan

Kepercayaan saya terhadap pepatah "Pikiran akan menuai tindakan" goyah seketika ketika saya memikirkan kebenaran bahwa "tindakan juga akan mempengaruhi pikiran".

Pepatah "pikiran akan menuai tindakan" sangat masuk akal ketika kita (misalnya) berpikir bahwa kita adalah orang yang tidak jago berpidato. Akibatnya kita menuai tindakan sebagai produk dari pemikiran tersebut. Tindakan kita yang mungkin terjadi adalah kita berpidato dengan terbata-bata, gugup, dan dengan gesture yang kikuk.

Tetapi ternyata saya memikirkan bahwa "tindakan juga akan menuai pikiran". Dan ini sangat cocok diterapkan jika kita ingin memusnahkan pikiran-pikiran yang merusak. Contoh katakanlah Togar sedang mengalami kemalangan. Dia begitu bersedih. Terlihat murung. Dalam pikirannya dia merasa bahwa kesedihannya amat sangat dalam. Pikirannya kalut.

Tetapi Togar ingin memusnahkan pikiran-pikiran itu. Dia tidak ingin lagi larut dalam kesedihan. Dia menelepon teman-temanya dan pergi berkumpul dengan mereka. Mereka bermain futsal siang hari lalu berkaraoke ria di malam hari.  Didepan teman-temannya dia berpura-pura bertindak bahwa dia tidak sedang dalam kesedihan. Awalnya dia memaksakan diri untuk ngobrol dan tertawa bersama teman-temannya. Tindakannya melawan apa yang ada dipikirannya sebelumnya. Alhasil tindakan Togar itu menuai pikiran baru. Pikirannya sudah lebih longgar dan tidak memikirkan kesedihannya lagi. Dengan mengamati wajah, sikap, dan suara teman-teman nya ketika Togar bermain dan berkaraoke dengan meraka, tanpa sadar Togar meniru reaksi mereka. Togar sadar atau tidak sadar akan menyamakan gerakan, sikap, dan nada suaranya dengan teman-temannya ketika bermain bola dan berkaraoke.

Setiap kali kita berpura-pura memiliki pikiran positif (biarpun nyatanya kita sedang berpikir negatif) dan mewujudkannya dalam tindakan, emosi kita pun akan terpicu menciptakan dan menguatkan pikiran yang ingin kita tanamkan.

Para ilmuwan berpendapat bahwa kita dapat mengondisikan diri untuk melakukan tindakan yang memicu pola kimiawi tertentu dalam otak yang akan berpengaruh pada pikiran kita secara positif.
Think Positive
Act Positive
And keep Running..

Thursday, March 15, 2012

Selamat Berjuang, Jangan Lihat Ke Belakang

Hari ini saya membaca kitab Kejadian 19 : 1-26. Kisah ini menceritakan bagaimana Allah dalam kemurkaannya memusnahkan kota yang penuh dosa, Sodom dan Gomora. Ya... semuanya musnah dan tidak ada yang tersisa kecuali Lot dan keluarganya.

Bagian yang menarik buat saya adalah ini :

Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; JANGANLAH MENOLEH KE BELAKANG, dan JANGANLAH BERHENTI di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." (Ayat 17)
Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. (Ayat 26)
Kisah tentang Lot dan keluarganya yang harus meninggalkan Sodom dan Gomorah setelah kota itu dikutuk Tuhan dengan cara membakarnya memberikan pelajaran penting buat saya. Tuhan berkata kepada Lot agar mereka meninggalkan kota itu, berjalan terus dan tidak boleh menoleh ke belakang. Namun dikisahkan kemudian, karena tak dapat merelakan kejayaan masa lalu , sang istri mengabaikan larangan itu. Ia menoleh ke belakang. Dan, jadilah tubuhnya membeku menjadi patung. 

Bagi saya, kisah Lot ini mengajarkan arti sebuah TOTALITAS. Ketika anda telah memutuskan untuk maju dan sudah menimbang segala konsekuensinya (resikonya), anda tidak boleh lagi melihat ke belakang. Apalagi mundur. Sekali sebuah langkah diambil, tidak ada alasan untuk berpikir mundur lagi. Once you decided it, you must follow it! 

Setiap orang pasti punya tujuan hidup masing-masing. Saya.. dan saya yakin setiap orang jg punya kerinduan untuk meninggalkan legacy hidupnya yang bisa menjadi panutan dan inspirasi buat generasi yang akan datang.  Untuk meninggalkan legacy yang baik, butuh Totalitas. Fokus pada tujuan, menjaga konsistensi, dan TIDAK MENOLEH KE BELAKANG..

Selamat Berjuang, Berlari Kencang, Jangan Lihat Ke Belakang!