Friday, December 30, 2011

Flash of Mind II

Flash of Mind : Lesatan pikiran. Sesuatu yg melintas dalam pikiran secara tiba-tiba.

Pertama : Saya jadi berpikir, jika iman Kristen adalah sesuatu yang dikarang-karang oleh para manusia di zaman dulu, seharusnya mereka bisa membuat iman Kristen menjadi lebih mudah dan masuk akal sehingga bisa diterima oleh siapapun. Tetapi saya menemukan ternyata tidak demikian. Iman Kristen tidak berasal dari hikmat manusia. Banyak hal yang diajarkan oleh iman Kristen yang akan sulit oleh diterima oleh orang-orang. Mau bukti? Lihat saja banyak nya keberatan-keberatan tentang  mengasihi musuh, jika ditampar pipi kanan berikan pipi kiri, jika dipaksa berjalan satu mil, berjalan lah sejauh dua mil, Allah yang menjadi manusia, Yesus yang lahir dari seorang perawan di kandang yang hina, Doktrin Trinitas, dll. Iman Kristen tidak bisa menyaingi kesederhanaan dan kemasuk-akalan dari orang-orang yang menciptakan agama.

Kedua : Tentang cinta muda-mudi Saya setuju dengan ulasan C.S Lewis dalam bukunya Mere Christianity tentang perasaan yang berbunga-bunga ketika jatuh cinta. Saya juga pernah mengalaminya dan penjelasan Lewis tentang hal ini masuk akal.  Berikut ulasan Lewis tentang getaran hati :
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam bidang kehidupan yang satu ini (cinta), seperti halnya dalam setiap bidang kehidupan lainnya, getaran hati muncul pada awalnya dan tidak bertahan lama. Jenis getaran hati yang dirasakan oleh seorang anak laki-laki saat pertama kali membayangkan dirinya bisa terbang tidak akan terus bertahan ketika ia sudah memasuki Angkatan Udara. Getaran dan sedang benar-benar belajar terbang. Getaran hati yang anda rasakan saat pertama kali melihat tempat-tempat yang sangat indah memudar ketika anda benar-benar pergi untuk tinggal disitu. Apakah ini berarti akan lebih baik untuk belajar terbang dan tidak tinggal di tempat indah itu? Sama sekali tidak. Dalam kedua kasus itu, jika anda menjalaninya, padamnya getaran hati yang pertama akan digantikan dengan ketertarikan yang lebih tenang dan lebih bertahan lama.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Memang, orang mendapat kesan dari buku-buku,film,majalah,atau apapun bahwa jika kita telah menikahi orang yang tepat kita bisa berharap untuk terus dilanda asmara selamanya. Akibatnya ketika kita mendapati bahwa kita tidak mengalaminya, kita berpikir hal ini membuktikan bahwa kita telah membuat kesalahan dan berharap untuk mengubahnya.

Lagipula siapa yang sanggup untuk hidup dalam perasaan berbunga-bunga yang seperti itu bahkan untuk lima tahun saja? Apa yang terjadi dengan pekerjaan kita, nafsu makan kita, tidur kita, persahabatan kita? Ketika kita dalam perasaan berbunga-bunga pikiran kita pasti selalu tertuju dengan orang yang kita sukai dan itu berpengaruh terhadap pekerjaan, nafsu makan, tidur, persahabatan dengan yang lain. Saya pernah mengalami hal itu dan saya rasa kebanyakan orang juga seperti itu.

Tetapi tentunya berhenti dilanda asmara tidak berarti berhenti mencintai. Buat saya mencintai adalah sebuah keputusan yang kita ambil yang diikat oleh komitmen. Dan ketika kita berbica komitmen maka dalam hal suka ataupun duka kita tetap menjalaninya. Kita bisa mencintai satu dengan yang lain bahkan pada saat kita tidak saling menyukai sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri bahkan ketika kita tidak menyukai diri kita.
C.S Lewis lagi-lagi mengatakannya dengan sangat baik :
Diatas cinta mesin pernikahan dijalankan, dilanda asmara adalah ledakan yang memulainya
Sebenarnya pembahasan ini akan membawa kita lebih jauh ke dalam topik pernikahan. Saya sebenarnya tidak nyaman untuk menuliskan ini karena saya belum pernah menikah dan bahkan belum pernah menjalin asmara dengan gadis manapun. Tapi biarkan saya menyampaikan sedikit pendapat saya tentang pernikahan, khususnya pernikahan Kristen.

Kekristenan adalah satu-satunya kepercayaan yang mengagungkan pernikahan lebih daripada agama apapun. Ini bukan tanpa alasan. Hal ini terlihat jelas ketika Alkitab mengatakan bahwa relasi antara Allah dan umatNya adalah sama seperti relasi dalam pernikahan. Digambarkan bahwa Kristus adalah mempelai pria dan jemaat adalah mempelai wanita. Oleh karena Allah tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan umatNya seburuk apapun umatNya, maka hal itu memberikan petunjuk kepada kita perihal pernikahan Kristen.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bahwa pria dan wanita akan menjadi satu daging dalam ikatan pernikahan. Mereka yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Inilah yang menjadi alasan mengapa iman Kristen melarang keras poligami dengan alasan apapun kecuali maut yang memisahkan. Itulah sebabnya tidak boleh ada perceraian dalam pernikahan Kristen. Karena Allah sendiri tidak pernah meninggalkan umat Nya dalam kondisi apapun.

Saya pernah sedikit menyinggung hal ini dalam tulisan saya sebelumnya disini

Tuesday, December 27, 2011

Buku-buku bacaan

Membaca buku adalah salah satu kegemaran saya (tetapi saya tidak pernah tertarik membaca novel.hahaha). Membaca memberikan kesempatan buat saya untuk bisa menyelami kedalaman pikiran dari si penulis dan memetik pelajaran-pelajaran berharga dari tulisannya, apalagi jika buku-buku itu ditulis oleh pemikir-pemikir hebat seperti Ravi Zacharias, C.S Lewis, Max Lucado, dll.

Hingga saat ini, sudah cukup banyak buku yang saya baca. Dari beberapa buku tersebut saya ingin merekomendasikan beberapa buku yang saya anggap berkualitas sangat baik, layak dibaca, dan layak masuk kedalam perpustakan pribadi anda.

Buku-buku Rohani Kristen :

  1. Jesus Among Other Gods oleh Ravi Zacharias
  2. Teratai dan Salib oleh Ravi Zacharias
  3. Who Made God? oleh Ravi Zacharias, dkk
  4. I, Isaac, take Thee Rebekah oleh Ravi Zacharias
  5. Purpose Driven Life oleh Rick Warren
  6. Mere Christianity oleh C.S Lewis
  7. Four Loves oleh C.S Lewis 
  8. The Way of The Master oleh Roy Comfort dan Kirk Cameron
  9. Facing Your Giant oleh Max Lucado
  10. Lima Pokok Calvinisme oleh Edwin Palmer
  11. Worship Matters oleh Bob Kauflin

Buku-buku psikologi/pengembangan diri :

  1. The Seven Habits of Highly Effective People oleh Sean Covey
  2. Good Luck oleh Alex Rovira, Fernando Trias de Bes
  3. Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta oleh Grace Suryani dan Stephen Halim
  4. Your Job is not Your Career oleh Rene Suhardono
  5. Change oleh Rhenald Kasali
  6. Re-code your change DNA oleh Rhenald Kasali
  7. Who Moved My Cheese oleh Spencer Johnson

Buku-buku bisnis/entrepreneurship :

  1. Business for The Glory of God oleh Wayne Grudem
  2. Hot Branding oleh Ipho Sentosa
  3. You Can Negotiate Anything oleh Herb Cohen
  4. Property Cash Machine oleh Joe Hartanto
  5. Investor Sibuk oleh Ferdie Darmawan
  6. Marketing Revolution oleh Tung Desem Waringin
  7. Cracking Zone oleh Rhenald Kasali
Buku-buku Biografi :
  1. Karmaka Surdaudaja : Tidak ada yang tidak bisa oleh Dahlan Iskan

Well, daftar diatas masih bisa bertambah seiring dengan buku-buku yang sedang saya baca dan belum saya baca. Mari membaca!

Flash of Mind

Beberapa pemikiran terlintas dalam benak saya saat ini (Flash of Mind - sesuatu yg terlintas di dalam pikiran secara tiba-tiba)

Pertama, entah kenapa muncul pertanyaan dalam diri saya,
Apakah Allah itu adalah pribadi yang narsistik? Pribadi yang haus akan kasih dan puji-pujian dari umat ciptaan Nya? Pribadi yang merasa gusar dan ketakutan ketika tidak ada orang yang menyembah Dia? 
Saya pernah menonton salah satu film terbaik tahun 2000 yang berjudul Gladiator. Dalam film tersebut diceritakan tentang seorang raja yang begitu ketakutan tidak dicintai, tidak dipuja, dan tidak dipatuhi oleh rakyatnya. Dia melakukan segala cara agar rakyatnya mencintai dia, memuja dia, dan mematuhi dia. Salah satu caranya ialah dengan membangun arena pertandingan hidup mati antara para gladiator yang disebut dengan Coloseum.  Apakah Allah adalah pribadi yang seperti itu?



Tetapi akhirnya saya menemukan dan akhirnya diingatkan bahwasanya Allah adalah pribadi yang sempurna. Allah tidak harus menciptakan manusia, tetapi Allah memilih menciptakan kita. Allah tidak akan merasa kurang ketika Allah tidak dikasihi dan dipuji-puji umatNya. Karena kasih sempurna sudah ada  dalam relasi Tritinas sebelum segala sesuatunya diciptakan (dimana ada kasih antara Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Manusia diciptakan (pada dasarnya) adalah sebagai bentuk aliran kasih Trinitas dimana Allah menyatakan kasih Nya melalui ciptaan Nya. Allah tidak akan merasa gusar dan was-was ketika tidak ada seorang pun yang menyembah Dia. Karena pribadi Allah yang sempurna tidak ditentukan oleh kasih kita terhadap Dia, puji-pujian kita terhadap Nya, dan penyembahan kita terhadap Nya.

Pada dasarnya (saya berani mengatakannya), didalam kesempurnaan Nya, Allah tidak membutuhkan kasih, pujian, ataupun penyembahan kita. Sebenarnya Dia ingin kita menyembah, mengasihi, dan memuji Dia adalah hanya karena Dia menciptakan manusia dengan natur seperti itu. Kita benar-benar akan hancur dan kehilangan identitas diri kita ketika kita tidak mengasihi, memuji, dan menyembah Allah.

Sekali lagi, ini bukan karena Allah membutuhkan itu semua (kasih,pujian,dan penyembahan manusia), tetapi hanya karena kita sendirilah yang butuh untuk memberikan pujian, penyembahan, dan kasih kita terhadap Allah. Kebutuhan kita yang paling mendasar adalah mengasihi Allah, memuji Allah, dan menyembah Allah. Kita akan hancur dan kehilangan identitas kita sebagai manusia ketika kita tidak melakukannya.

Kedua, dalam sebuah kesempatan, saya membaca notes facebook seorang teman saya dimana dia berbicara tentang betapa film Passion of The Christ adalah film yang tidak sesuai dengan konteks Alkitab yang sebenarnya. Dia meyayangkan betapa banyaknya adegan-adegan yang didramatisir dalam film tersebut dimana itu semua tidak Alkitabiah.

Di satu sisi saya mengiyakan kalimat dia perihal dramatisasi film dan beberapa adegan yang tidak tercatat dalam Alkitab (sehingga dia mengatakan "tidak Alkitabiah"). Tetapi saya khawatir setiap orang yang membaca notes yang dia tulis dan mencerna bulat-bulat argumentasinya, akan terhanyut oleh kritik-kritik terhadap film tersebut dan pada akhirnya gagal melihat pesan agung yang ingin disampaikan melalui film tersebut. Saya berani mengatakan bahwa keseluruhan notes nya adalah kritikan terhadap film tersebut dan sangat menyayangkan mengapa dia tidak mengangkat pesan agung dari film yang dikritiknya dalam tulisan tersebut sehingga mata pembaca mampu melihat "sedikit kebaikan" diantara "banyak keburukan" dalam film itu.

Saya pernah mendengar sebuah kalimat bijak seperti ini :
" Ada dua orang yang sedang berada di sebuah hutan belantara dan sama-sama menemukan bunga mawar yang tumbuh dikelilingi oleh semak belukar. Namun kedua orang itu punya cara pandang yang berbeda (yang pada akhirnya memiliki respon/perasaan yang berbeda). Orang pertama merasa marah, kecewa, dan sedih melihat bunga mawar yang indah itu tumbuh tetapi dikelilingi oleh semak belukar. Orang yang kedua merasa bersyukur, berterimakasih, dan senang, karena ditengah semak belukar seperti itu masih terdapat bunga mawar indah yang bisa tumbuh. "


Apabila kita juga ikut menyerang film Passion of The Christ dengan berbagai kritikan, maka kita juga harus mampu menjaga diri kita sehingga kita juga mampu melihat hal-hal baik dalam film tersebut. Dan menurut saya ini berlaku terhadap semua peritiwa dalam hidup yang menggoda kita untuk memberikan kritik dan bahkan cercaan.

Pada akhirnya saya percaya bahwa dalam kondisi paling sulit sekalipun, kita harus meminta hikmat Tuhan sehingga kita mampu melihat kebaikan Nya dalam kondisi sulit itu. Dan kita mampu mengucapkan syukur atas semua peristiwa dalam hidup ini. Karena tidak ada satu hal pun yang terjadi diluar kehendak Allah. Dan kehendak Allah bagi kita (sudah jelas) ialah semua yang terbaik buat kita.

Ketiga : saya pada akhirnya semakin diteguhkan bahwa kita tidak mungkin bisa memahami masalah kejahatan tanpa berbicara tentang eksistensi Allah. Hal ini tidak berlaku bagi orang ateis. Mereka menganggap bahwa kejahatan yang menimbulkan penderitaan telah membuktikan bahwa Allah itu tidak ada. Buat saya justru adanya kejahatan semakin meneguhkan eksistensi Allah.

Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan
Pada dasarnya kegelapan itu adalah ketiadaan terang.
Apa yang kalimat itu coba sampaikan sebenarnya adalah kegelapan adalah absennya terang. Fokus dari kalimat ini sebenarnya adalah terang. Ketika dalam sebuah ruangan gelap dan tertutup diletakkan sebuah lilin, maka terang dari lilin tersebut akan menghapus kegelapan disekitarnya. Tetapi kegelapan itu sendiri tidak bisa menghapus terang yang ada.

Keempat : Tentang perasaan. Ketika saya mendengar orang-orang mengatakan seperti ini "tadi saya merasa meletakkan kunci saya disini" atau "tadi saya merasa sudah memberikan barang itu kepadanya". Terhadap pernyataan-pernyataan yang memakai kalimat "saya merasa..." biasanya akan saya balas dengan gurauan "ah, jangan terlalu memakai perasaan".

Orang seperti saya biasanya sangat enggan menggunakan atau lebih tepatnya mengakui perasaan saya. Saya pikir sungguh geli kedengaranya ketika pria memakai perasaan. Terlalu feminim rasanya. Ga laki kata seorang teman saya. Tetapi benarkah demikian?

Perasaan adalah ekpresi kita terhadap sebuah hal. Perasaan itu meliputi rasa marah, senang, kecewa, sedih, takut, bahagia, dsb.  Dalam buku Ravi Zacharias yang berjudul Cries of Heart dituliskan tentang berita yang mengejutkan dimana komputer supercanggih buatan IBM bernama Deep Blue yang berhasil mengalahkan juara catur dunia Gary Kasparov dalam sebuah pertandingan catur. Perhatikan referensinya tentang emosi dan perasaan yang begitu manusiawi :

Pendapat bahwa Deep Blue memiliki pikiran adalah ide yang absurd. Bagaimana mungkin sebuah objek yang tidak memiliki keinginan, tidak takut apa-apa, tidak menikmati apa-apa, tidak membutuhkan apa-apa, tidak mempedulikan apa-apa dapat memiliki pikiran? Dia bisa menang dalam  permainan catur, tapi bukan karena dia menginginkannya. Dia tidak senang ketika menang atau sedih ketika kalah. Apa dia bisa bersenang-senang jika mengalahkan Kasparov? Apakah dia bisa berharap mengajak Deep Pink kencan ke kota? Dia tidak peduli terhadap catur atau apapun juga. Dia bermain catur untuk alasan yang sama dengan kalkulator yang menjumlahkan sesuatu atau alat pemanggang roti yang memanggang roti karena dia adalah mesin yang dirancang untuk tujuan itu.. Tidak peduli seberapa luar biasanya yang dapat mereka tampilkan, didalam mereka akan tetap nol besar.. tidak ada komputer yang mempunyai pikiran tiruan mempunyai emosi tiruan juga.




Sungguh suatu pemberian yang unik yang Allah taruh dalam diri manusia yaitu kapasitas untuk merasakan. Perasaan adalah sebuah kapasitas yang membedakan manusia dengan robot. Dan saya bersyukur Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk merasakan.

Sunday, December 25, 2011

Don't Save It All for Christmas

One of contemporary christmas song that has good lyric..

Don't get so busy that you miss
Giving just a little kiss
To the ones you love
Don't even wait a little while
To give them a little smile
A little is enough


How many people are crying
People are dying...
How many people are asking for love


Don't save it all for Christmas Day
Find a way
To give a little love everyday
Don't save it all for Christmas Day
Find your way
Cause holidays have come and gone
But love lives on
If you give on
Love...


How could you wait another minute
A hug is warmer when you're in it
And Baby that's a fact
And saying "I love you's" always better
Seasons, reasons, they don't matter
So don't hold back
How many people in this world
So needful in this world
How many people are praying for love


Don't save it all for Christmas Day
Find a way
To give a little love everyday
Don't save it all for Christmas Day
Find your way
Cause holidays have come and gone
But love lives on
If you give on
Love...


Let all the children know
Everywhere that they go
Their whole life long
Let them know love


Don't save it all for Christmas Day
Find a way
To give a little love everyday
Don't save it all for Christmas Day
Find your way
Cause holidays have come and gone
But love lives on
If you give on
Love...
Love...

Friday, December 23, 2011

Jika Surga dan Neraka Tidak ada?

Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah foto yang dipost oleh teman saya di halaman Facebooknya. Foto itu cukup menarik perhatian saya karena sebuah tulisan yang ada pada foto tersebut. Tulisan itu adalah :
If there is no hell and heaven, will you still praise God? 

1. Sebuah pertanyaan yang keliru
Saya mencoba merenungkan pertanyaan tersebut dan akhirnya menyimpulkan bahwa kita tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan seperti itu. Pertanyaan tersebut cacat. Itu saja. Bagaimana mungkin kita bisa menjawab pertanyaan yang isinya saja sudah salah. Tidak mungkin tidak ada surga dan neraka sehingga mustahil kita bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan seperti itu. Sama seperti berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan "siapakah suami dari gadis yang belum menikah itu?" atau "siapakah saudara kandung dari anak semata wayang tersebut?". Bagaimana mungkin anda bisa menjawab pertanyaan yang isi dari pertanyaannya saja salah? Mustahil. Kalaupun kita mencoba secara asal-asalan menjawabnya, tentu jawaban kita adalah jawaban yang pasti ngawur.
You can’t find the right answer if you’re asking the wrong question
Surga dan neraka tidak mungkin tidak ada. Karena dalam semua agama (kepercayaan) mempercayai adanya semacam surga untuk orang-orang saleh dan patuh terhadap ajaran agama dan neraka untuk orang-orang yang membangkang. Walaupun ada keistimewaan dalam iman Kristen perihal surga dan neraka tapi pada intinya semua orang yang beragama (teisme) diajarkan tentang surga dan neraka.

Khusus untuk orang yang tidak percaya ada Allah (ateisme), mungkin pemaparan diatas belum cukup memuaskan. Mereka akan berpikir, mengapa harus ada surga dan neraka? Mengapa harus ada Tuhan? 
Sebelum kita membahas tentang keberadaan surga dan neraka, kita harus membahas tentang keberadaan Allah terlebih dahulu. Karena Allah lah yang telah menyediakan tempat seperti itu.
Bagi iman Kristen (pada dasarnya) neraka adalah tempat dimana kita mengalami keterpisahan dari Kasih Allah dan mengalami penghukuman atas dosa-dosa kita. Sebaliknya surga adalah tempat dimana kita mengalami Kasih Karunia Allah, dan bebas dari penghukuman atas dosa.

2. Masalah kejahatan dan keberadaan Allah
Lalu, bagaimana kita tahu bahwa Allah itu ada? Biasanya orang-orang ateis selalu mengaitkan antara kejahatan dengan keberadaan Allah. Mereka pada umumnya berpikir bahwa tidak mungkin kejahatan ada kalau Allah ada. Bagaimana mungkin Allah yang maha baik itu membiarkan kejahatan dan penderitaan merajalela? Mengapa Allah yang baik itu membiarkan penderitaan, kelaparan, kemiskinan, dan peperangan itu terjadi? Mengapa Allah yang adil itu membiarkan kejahatan dan ketidakadilan terjadi di bumi ini? Lalu dimanakah Allah itu? Apakah Dia berkeinginan mencegah kejahatan dan ketidakadilan, namun tidak mampu? Maka Ia tidak Maha Kuasa. Apakah Dia mampu,tetapi tidak ingin? Maka Ia jahat. Apakah Ia mampu dan ingin? Lalu bagaimana mungkin bisa ada kejahatan dan ketidakadilan?

Pastilah semua orang dengan pemikiran yang sehat di muka bumi ini mengatakan bahwa  yang dilakukan Hitler terhadap jutaan orang-orang Yahudi adalah kejahatan yang sangat mengerikan. Pastilah kita semua mengutuk perbuatan keji seorang pria yang dengan tega memperkosa seorang gadis. Pastilah kita semua menyayangkan tindakan seorang anak yang membunuh ibu nya sendiri. Pastilah kita geram dengan para perampok yang merampok seluruh isi rumah kita. Itu semua adalah contoh-contoh kejahatan. Kita mengkategorikan itu semuanya sebagai kejahatan.

Tetapi tahukah anda bahwa perihal mengkategorikan perbuatan Hitler, pria,anak,dan perampok dalam kasus-kasus tersebut sebagai sebuah tindakan kejahatan mengangkat sebuah masalah filosofis yang penting.
Kita semua sepakat bahwa jika seseorang ingin mengklaim bahwa sesuatu itu jahat, maka ia harus bertanya dengan kriteria apa seseuatu itu dikatakan jahat. Apa yang menjadi tolak ukur dan standard nya untuk memutuskan sesuatu itu jahat dan yang lain itu baik. Bagaimana seseorang mengatakan hal itu jahat dan yang lain nya baik? Alat pengukur moral apakah yang sedang dipakai untuk mengukur “sesuatu” itu.  Dengan proses apakah kejahatan itu dibedakan dari kebaikan dan sebaliknya?

Mustahil untuk membedakan kejahatan dari kebaikan KECUALI seseorang memiliki sebuah titik acuan yang mutlak dan yang benar-benar baik. Kita tidak akan pernah bisa mengkategorikan sesuatu itu jahat atau baik tanpa titik acuan yang mutlak dan benar-benar baik itu. Titik acuan yang mutlak dan benar-benar baik itu hanya ditemukan dalam pribadi Allah yang Maha Kuasa,Maha Kasih dan Maha Adil. Maka dengan itu, pastilah ada Allah yang berkuasa di alam semesta ini. Kita belum berbicara Allah orang Kristen disini. Yang penting Allah itu memang ada, titik.

Untuk berkilah dari argumen diatas, beberapa orang skeptik berusaha menghindarinya dengan mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kejahatan ataupun kebaikan. Itu semua hanya sudut pandang manusia melihatnya. Dia tidak percaya ada benar dan salah.
Untuk menghadapi argumen seperti ini, C.S Lewis dalam bukunya Mere Christianity memberikan jawaban dengan sangat baik :

Setiap kali anda menemukan seorang pria yang berkata bahwa ia tidak percaya bahwa Benar dan Salah itu memang ada, anda akan mendapati pria yang sama kembali pada hal ini beberapa saat kemudian. Ia mungkin saja melanggar janjinya pada anda, tetapi jika anda mencoba untuk tidak menepati janji anda kepadanya satu kali, maka ia akan mengeluh "Tidak Adil!" sebelum anda sempat berkedip.

Jadi tampaknya kita dipaksa untuk harus percaya bahwa Benar dan Salah itu memang nyata. Sampai disini argumen orang skeptik tersebut terpatahkan.

Berbeda dengan hal diatas, ternyata ada orang skeptik yang memang mempercayai adanya kebaikan dan kejahatan, benar dan salah. Saya pernah membaca debat antara tokoh ateis Bertrand Russell dengan Filsuf Kristen Frederick Copleston. Dalam perdebatan itu Copleston bertanya pada Russell apakah dia percaya pada kebaikan dan kejahatan. Russell mengaku percaya dan Copleston meresponi dengan bertanya bagaimana Russell mengkategorikan kejahatan dengan kebaikan. Russell berkata bahwa dia membedakan baik dan jahat sama seperti membedakan warna.
"Tapi anda membedakan warna dengan melihat bukan?" Copleston mengingatkan Russell "Bagaimana anda membedakan yang baik dan jahat?"
"Berdasarkan perasaan, memang dengan apa lagi?" jawab Russell cepat.

Bagaimana caranya, secara logis, kita dapat menilai baik dan jahat hanya dengan perasaan? Perasaan siapa? Hitler atau Bunda Teresa? Dengan kata lain pasti ada hukum moral, sebuah standar untuk menentukan baik dan buruk. Kemudian kalau ada hukum moral maka kita harus menerima fakta bahwa ada yang membuat hukum moral itu. Siapa lagi kalau bukan Allah yang menaruh hukum moral itu dalam setiap diri manusia. Jika tidak ada Allah, maka tidak ada hukum moral, dan tidak ada kejahatan ataupun kebaikan dan pada akhirnya orang-orang ateis akan terjebak dengan perangkap yang dibuatnya sendiri untuk menghancurkan teisme.

Argumentasi yang mungkin diberikan oleh orang ateis biasanya adalah "Lalu, mengapa Allah tidak menciptakan kita untuk melakukan perbuatan yang baik saja?" Jika memang seperti itu jadinya, maka itu bukanlah kasih. Jika seperti itu yang terjadi, maka skenario seperti itu akan berarti bahwa kita bukanlah benar-benar manusia. Kita tidak akan pernah membuat keputusan dan mencintai dengan bebas. Kita tidak ada bedanya dengan robot-robot yang diprogram untuk melakukan suatu perintah saja. Kita tidak ada bedanya dengan boneka yang dapat berbicata, yang ketika anda tarik talinya, boneka itu dapat mengatakan “saya mencintai Mu”.  Kasih sejati itu bukanlah paksaan. Kasih menjamin kebebasan dalam memilih. Manusia bukan lah robot yang diprogram untuk melakukan suatu perintah saja. Manusia berbeda dengan robot bukan? Dan Allah tidak menciptakan robot. Allah ingin kita menyambut kasihNya karena memang kita rindu akan kasihNya, bukan karena paksaan. Disitulah kasih diwujudkan.

3. Ilmu pengetahuan dan keberadaan Allah
Terlepas dari itu semua, kaum ateis tampaknya belum puas dengan pemaparan diatas. Biarpun dengan semua argumen-argumen diatas, mereka tetap beranggapan bahwa Allah itu tidak ada. Saya cenderung mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak ingin Allah ada. Stephen Hawking, Fisikawan Terkenal di Cambridge University merupakan seorang ateis. Dia beranggapan bahwa alam semesta sudah ada dengan sendirinya. Allah tidak menciptakan alam semesta karena menurutnya Allah tidak ada. Hawking menambahkan bahwasanya segala hukum-hukum fisika dapat menciptakan segala yang ada dalam semesta. Fisika tidak memiliki tempat untuk Allah.
"..because there is a law such as gravity, the Universe can and will create itself from nothing."  (Stephen Hawking)
Ada beberapa kejanggalan dari kalimat Hawking diatas. Isi kalimatnya begitu absurd (tidak masuk akal) :

Pertama : Pernyataan Hawking diatas dengan jelas mengasumsikan bahwa hukum-hukum fisika seperti hukum gravitasi sudah ada sebelumnya (sehingga mampu menciptakan semesta). Tetapi ternyata isi kalimat berikutnya saling berkontradiksi karena dia sendiri mengatakan bahwa semesta dapat menciptakan dirinya sendiri dari sesuatu yg tidak ada (padahal di awal kalimat dia dengan jelas mengatakan bahwa ada hukum gravitasi yang menciptakan semesta). Jika saya mengatakan " x menciptakan y" ini mensyaratkan keberadaan x untuk selanjutnya menciptakan y. Jika semesta belum pernah ada (nothing) bagaimana mungkin dia menciptakan dirinya sendiri? Hanya Yang Sudah Ada yang mampu menciptakan yang tidak ada. Karena itulah keberadaan Allah tidak dapat disangkal oleh siapapun.

Kedua : Hukum-hukum fisika memang menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi didalam semesta. Tetapi dia sendiri tidaklah menciptakan semesta. Hukum gravitasi akan menjelaskan kepada kita bagaimana keadaan sebuah benda ketika dilepaskan dari sebuah ketinggian tetapi hukum tersebut tidaklah menciptakan gravitasi. Hukum Gravitasi tidak menciptakan gravitasi itu sendiri.

Contoh yang lain yang paling sederhana adalah hukum dalam aritmatika yang mengatakan bahwa 1+1 = 2.  Jika saya menyimpan uang sebanyak 1 juta direkening saya dan diwaktu yang lain menyimpan 1 juta lagi, hukum aritmatika dengan rasional akan menjelaskan bahwa sekarang saya sudah memiliki 2 jt didalam rekening. Tetapi jika saya tidak pernah menyimpan uang di bank dan hanya berharap kepada hukum aritmatika, mustahil tercipta uang sebanyak 2 jt direkening saya.

Disini kita melihat bahwa semua hukum-hukum di alam ini hanya mampu menjelaskan fenomena yang ada pada kondisi-kondisi yang sudah ditentukan. Tetapi hukum-hukum tersebut tidak mampu menciptakan apapun. Hawking’s view makes no sense— in every sense of that word.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat ini : bahwa segala pemikiran-pemikiran skeptik yang berusaha meniadakan eksistensi Allah justru merupakan awal dari kejatuhan manusia pertama. Dalam iman Kristen, kejatuhan Adam ke dalam dosa pertama kalinya ialah karena keinginan untuk menjadi Allah, berusaha untuk tidak terikat kepada Allah, menjadi tuhan atas dirinya sendiri dan meniadakan Allah. Dari keinginan tersebut lah lahir berbagai macam kejahatan dan penderitaan (peperangan, kejahatan seksual, pencurian, pembunuhan, keegoisan, dsb).

C.S Lewis pernah mengatakan seperti ini :
Mengapa ada kehausan unik yang dialami oleh semua manusia jika hal itu tidak dapat atau tidak mungkin dipuaskan? Mahluk hidup tidak akan lahir dengan keinginan jika pemuasan akan keinginan itu tidak ada. Seorang bayi merasa lapar, dan memang ada yang namanya makanan. Seekor itik ingin berenang dan memang ada yang namanya air..Mengapa kita memiliki kekosongan akan Allah dalam hati dan pikiran kita, kecuali kekosongan itu ada untuk dipenuhi?
Kepercayaan-kepercayaan primitif manusia purbakala (seperti menyembah pohon,dsb) menunjukkan bahwa ada natur alami manusia untuk menyembah sesuatu yang sangat berkuasa atas semesta ini. Manusia tidak bisa menyangkal natur ini.

Bekasi, 22 Des 2011
Science without religion is lame, religion without science is blind." - Albert Einstein

Monday, December 19, 2011

Bersama Keluargaku

As we come into Your presence Lord
Lifting our heart as one
And with one voice we sing
Promise to be faithfull till the end
Forever love You our God

As for me and my house
We will serve You Lord
Together forever we will love You more
Your love is higher than the heaven
Knitted us as one
Great is Your unfailing love

Kami datang dihadiratMu
Dalam satu kasih dengan bersehati
Berjanji setia sampai akhir
MengasihiMu Yesus

Bersama keluargaku melayani Tuhan
Bersatu selamanya mengasihi Engkau
Tiada yang dapat melebihi kasihMu ya Tuhan
Bagi kami Engkau segalanya

Gelombang badai hidup coba menghalangi
Namun kuasa Tuhan buka jalan kami