Sunday, November 29, 2015

Pygmalion Effect : A Phenomenon That Every Leader Must Consider

Pygmallion is a character in a Greek myth. He worked as a sculptor and one day he created a woman statue which was very perfect and beautiful. Enamored by the beauty of his own making, Pygmalion begs the gods to give him a wife in the likeness of the statue. The gods grant the request, and the statue comes to life..

Based on that story, social psychologist Robert Rosenthal and Jacobsen (1968) conduct an experiment to see the impact of expections put on someone to his performance.  The work of Rosenthal and Jacobsen (1968), among others, shows that teacher expectations influence student performance. Positive expectations influence performance positively, and negative expectations influence performance negatively. Rosenthal and Jacobson originally described the phenomenon as the Pygmalion Effect.
“When we expect certain behaviors of others, we are likely to act in ways that make the expected behavior more likely to occur.” (Rosenthal and Babad, 1985)
Some practical tips related to Pygmallion Effect that can be implemented in our daily life if you are a teacher or leader in a company.

  1. Never forecast failure in the classroom or workplace. If you know a test/task is particularly difficult, tell your students/follower that the test is difficult but that you are sure that they will do well if they work hard to prepare.
  2. Do not participate in gripe sessions about students/follower. Faculty members/leaders who gripe about students/follower are establishing a culture of failure for their students, their department and their own teaching.
  3. Establish high expectations. Students/follower achieve more when faculty/company have higher expectations. When you give students/employee a difficult assignment, tell them, “I know you can do this.” If you genuinely believe that your students/employee cannot perform the assignment, postpone the assignment and re-teach the material.

Setidaknya ada 2 orang hebat yang saya tahu dari kisah hidupnya mengalami efek pygmallion ini, dimana mereka mendapatkan posititive and high expectations dari orang-orang yang mereka hormati dan sayangi sehingga memberi mereka power untuk menjadi sukses. Kedua orang tersebut adalah Darwin Silalahi (CEO Shell Indonesia) dan Handry Satriago (CEO General Electric Indonesia).

Tuesday, November 10, 2015

Peperangan Yang Pertama dan Terutama

Peperangan pertama dan yang terutama (dan juga yang paling sulit) adalah perang terhadap diri sendiri. 
Terhadap ketakutan, 
kemalasan, 
kesombongan, 
keserakahan,
amarah


Kemenangan terhadap diri sendiri akan mendahului kemenangan terhadap tantangan hidup lainnya yang berasal dari luar diri sendiri. 

Sunday, November 8, 2015

Percaya kepada apa/siapa?

Sebagai seorang pemimpin, dalam memutuskan suatu hal tidak boleh berdasarkan pendapat/saran orang lain tanpa memperhatikan data/fakta/analisa pribadi si pemimpin. Tidak boleh. Mengapa? Karena setiap orang punya kepentingannya masing-masing dan motivasi yang seringkali hanya untuk keuntungan pribadi. Padahal seorang pemimpin bertanggung jawab untuk nasib semua orang yang dipimpinnya.

Oleh sebab itu keputusan harus berdasarkan data, fakta, dan anisis pribadi sebagai seorang pemimpin. Itulah keputusan yang akan adil bagi semua orang.

Sunday, September 20, 2015

Filosofi Rumus

Hari ini ketika mengikuti kursus tank inspector, saya diingatkan lagi untuk TIDAK sekedar menghafal rumus, tapi yang lebih penting adalah memahami filosofi rumus tersebut. Misalnya contoh rumus perhitungan thickness minimum localized thinned area dari rumus API 653 dibawah



Ketika menghadapi rumus tersebut, saya harus terlebih dulu menanyakan "Apakah rumus diatas make sense buat saya?".

Misalnya dalam rumus diatas, thickness minimum yang dibutuhkan untuk shell tanki bisa tetap dioperasikan, nilainya berbanding terbalik dengan S (stress maksimum yang diizinkan).

Apakah itu make sense?

Pikirkan lagi. Misalkan kalau seandainya suatu material pelat shell tipe "X" memiliki nilai S besar, artinya material pelat tersebut mampu menahan stress yang besar dan tidak mengalami kerusakan. Sehingga material tersebut hanya membutuhkan ketebalan yang lebih kecil saja dibandingkan material lain yang punya nilai S yang lebih kecil. Berarti logislah kalau nilai S besar, maka nilai t akan kecil dan sebaliknya.

Kemudian makna E, joint eficiency itu apa sebenarnya?

  • Analogi pertama. Ketika kita hendak membangun suatu jalur dengan jalan aspal yang punya kekuatan menahan beban hingga 10 ton. Lalu jalur tersebut akan melewati sungai, dan kita bangun jembatan dengan kekuatan menahan beban hanya 8 ton. Maka ketika kita hendak melewati keseluruhan jalur tersebut, kita HANYA akan memakai kendaraaan yang punya beban maksimal 8 ton saja.
  • Analogi kedua. Tetapi seandainya kendaraan kita tidak akan pernah melewati jembatan berkekuatan 8 ton tersebut, maka kita bisa memakai kendaraan hingga 10 ton.
  • Analogi ketiga. Lalu misalkan kekuatan jalan aspal 10 ton dan kekuatan jembatan kita desain 12 ton. Jika kita ingin melewati jalur tersebut, kita HANYA akan memakai kendaraan yang punya beban maksimal 10 ton, BUKAN 12 ton, karena kita tidak ingin jalan aspal kita jebol.

Jembatan yang menghubungi dua daratan tersebut ibarat joint antar shell tanki. Dari analogi tersebut kita tahu bahwa joint efiency tidak akan pernah lebih besar dari 1. Karena beban kendaraan maksimal kita tetap mengikuti jalan aspal 10 ton sekalipun jembatan kita desain 12 ton.

Sehingga untuk kasus korosi yang jauh dengan joint (jembatan-red) dimana jaraknya lebih besar dari 1 inch, maka E-nya 1(ingat analogi kedua).Tetapi untuk yang dekat dengan joint, maka nilai E nya mengikuti tabel 4.1 pada API 653.

Intinya, selalu pahami filosofi suatu rumus dan tanyakan pada diri sendiri apakah rumus itu make sense buat anda.

Friday, September 18, 2015

Tank Inspector


  1. Untuk Konstruksi (bukan rekonstruksi yaa), WPS dan welder/welding operator harus dikualifikasi menurut aturan standard ASME Section IX
  2. Untuk Re-konstruksi, WPS dan welder/welding operator harus dikualifikasi menurut aturan standard ASME Section IX, API 650 Section 9, dan API 653 
  3. Untuk welding pada tangga (ladder) dan platform asemblies, handrail, stairways, WPS mengacu pada AWS D1.1, AWS D.1.6, atau ASME Section IX. (Umumnya aturan di ASME IX lebih ketat dibanding AWS)
  4. Essential Variable dalam Prosedur dalam ASME Section IX artinya apabila ada perubahan pada kondisi pengelasan akan mempengaruhi mechanical properties pengelasan tersebut. 
  5. Sesuai ASME IX QW 322, jika seorang welder sudah tidak pernah mengelas sesuai dengan sertifikatnya selama 6 bulan lebih maka kualifikasi welder tersebut sesuai sertifikatnya dinyatakan expired
  6. Ref API 650, identifikasi atas welded joint (sambungan las), dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut : hand- or machine stamped adjacent to completed weld atau membuat record yang mengidentifikasi welder untuk setiap joint.
  7. Ketika lowest shell course didesain dengan stress material grup IV, IVA, V, atau VI, maka anular bottom plate yang di butt-welded harus digunakan.
Acceptance Standards NDE pada API 650 :
  • MT: ASME Section VIII, Appendix 6 (Paragraphs 6-3, 6-4, 6-5)
  • PT: ASME Section VIII, Appendix 8, (Paragraphs 8-3, 8-4, 8-5)
  • RT: ASME Section VIII, Paragraph UW-51 (b)
  • UT: For welds examined by UT in lieu of RT, acceptance standards are in API 650 Appendix U. For UT when RT is used for the requirements of 7.3.2.1, the acceptance standard is as agreed upon by the Manufacturer and Purchaser.

Sunday, August 9, 2015

Profit!

Profit adalah keuntungan yang kita dapatkan karena melakukan sesuatu. Sesimpel itu.

Seringkali profit dinilai dengan uang, tetapi menurut saya profit sebaiknya dilihat lebih dari sekedar uang, misalnya relasi, dan pengalaman (experience).

Jika profit diukur dengan uang, maka profit adalah berapa besar nilai uang yang kita dapatkan. Dihitung dari besarnya pendapatan dikurangi dengan biaya operasional.
Jika diukur dengan relasi, profit dalam hal ini berapa banyak relasi dan kualitas relasi yang kita jalin karena melakukan sesuatu, misalnya bergabung dalam komunitas tertentu.
Jika diukur dengan pengalaman, profit adalah berapa banyak pengalaman yang kita dapatkan karena melakukan sesuatu, misalnya dengan membantu job desc seseorang, kita mendapatkan pengalaman (wawasan) tertentu.

Dan tahukah anda, seringkali, profit relasi dan profit pengalaman ini begitu berharga dan bisa saja lebih besar nilainya dari profit uang yang didapatkan. Manusia yang hanya memikirkan uang sebagai acuan profit, akan sulit melihat hal tersebut.

Lalu, apakah kita berdosa jika bekerja dengan mengharapkan profit?
Terlalu naif kalau kita katakan "ya".
Terkadang orang yang berpikiran naif seperti itu berpikir bahwa jika salah satu pihak diuntungkan, maka pihak yang lain pasti dirugikan. Well, pemikiran seperti itu sangat dangkal dan hanya menilai profit dari uang saja.

Lalu pertanyaan berikutnya yang muncul, apakah bisa kedua pihak sama-sama profit? Saya yakin bisa. Tergantung niat saja sebenarnya. Dan ingat profit tidak semata-mata dinilai dengan uang saja. Namun, jika kita berurusan dengan orang yang kikir, maka akan sulit sekali mendapatkan keuntungan dikedua belah pihak karena orang kikir hanya berniat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pihak lain untuk dirinya sendiri. Selalu ada win-win solution yang menguntungkan kedua belah pihak.